Showing posts with label The Thoughts that Matter. Show all posts
Showing posts with label The Thoughts that Matter. Show all posts

Thursday, February 16, 2012

For Joni Has Taught Me "Both Sides" of Life


Many songs might made you feel good, but few could made you think, weep, and not to mention, re-humanize you.


"Really, she is the Mozart of our times. We are so bombarded, so inundated, and even the language of our thoughts is intruded upon. Joni gives us a real framework, a simplicity that has depth, and in her later work, a journey to jazz. She is unequaled."

Saturday, January 28, 2012

Untuk Adik yang Baru Wisuda: Parade Kata-kata Imut (Hadiah Wisuda dari Kakak untuk Saya)


Tulisan ini dibuat oleh kakak perempuan saya, Putri Prihatini, khusus untuk saya yang baru wisuda pada tanggal 19 Mei 2011 dengan gelar Sarjana Ilmu Politik dari Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, FISIPOL, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. This is definitely as good as my cum laude title!

_________________________________________

Barangkali orang-orang yang tahu akan bertanya-tanya kenapa saya belum juga memberi ucapan selamat, baik tertulis maupun lisan kepada Sofia Ariani yang baru wisuda. Sumpah, bukannya karena saya menganggap kelulusannya sebagai sesuatu yang tidak penting. Ada beberapa hal yang membuat saya berbuat begitu, dan kali ini, akan khusus saya beberkan dengan (ugh, terpaksa) parade kata-kata imut.

Untuk Sofia,
aku tidak memberi selamat karena kamu tahu aku ini orangnya kikuk sekali kalau harus mengatakan sesuatu yang bagus-bagus (entahlah, kayaknya ini bawaan orok), tapi aku lebih suka kalau orang menganggapku tidak sopan dan kasar dan macam-macam lagi, padahal sebenarnya aku bangga padamu dalam hati.

Untuk Sofia,
aku tidak memberi selamat karena kupikir mungkin kamu sudah punya cukup banyak orang yang memberimu selamat, entah tulus atau pura-pura atau berlapis rasa iri dengki, sementara yang kamu butuhkan setelah acaranya berlalu adalah orang yang mau mendengarkan semua kecemasan dan kelelahanmu (dan mengirim uang ke rekening ATM-mu untuk makan kalap yang biasa kau lakukan saat stress).

Untuk Sofia,
aku tidak memberimu selamat karena kupikir kita perlu bertemu secara pribadi kalau kamu punya sesuatu yang kepingin kamu tumpahkan setelah acara wisuda dan semua urusanmu selesai, yang mungkin tidak terasa enak kalau disampaikan lewat media.

Untuk Sofia,
aku baru saja maraton menonton Six Feet Under, season 2, sebelum menulis ini. Ada sebuah adegan dimana keluarga Fisher menghadiri upacara pelayatan seorang wanita yang seumur hidupnya hanya sendirian sehingga tidak ada seorangpun yang menghadirinya pelayatannya. Sang pendeta kenalan keluarga menyampaikan eulogi seperti ini, "mungkin semua bilang tidak baik bila kita hidup tanpa menyentuh kehidupan lain. Tetapi sangat egois menyimpulkan demikian. Semua kehidupan berarti, hanya kita belum tahu bagaimana." Kata-kata ini bagus sekali, jadi inginkan aku mengubahnya sedikit supaya lebih pas untukmu.

"Semua pencapaian itu berarti. Kita hanya belum tahu bagaimana."

(Setelah ini, si penulis muntah-muntah dan dilarikan ke rumah sakit karena terserang Mushy-mushy Words Syndrome).

Friday, January 27, 2012

Quoting Scrubs, Slapping Myself

Scrub is one of my favorite TV series of all time, and I gotta tell ya, some of the lines are definitely tailor-made for me! (What the heck am I talking about? Too much pride going on in my head). So, the lines below are some of my all time favorite as well. Real-slapping!



Dr. Cox: It's time. Sit down and listen up, Newbie. I suppose you want me to say you're great... That you've raised the bar for interns everywhere? 

J.D.: I'm cool with that! 

Dr. Cox: Well, I'm not going to say that. You're doing okay. Someday you might even be better than that. But right now, all I see is a guy who's so preoccupied with wondering what everyone else thinks about him, that he doesn't have anytime to think whether or not he believes in himself. Did you ever wonder why I told you to write your own evaluation? 

J.D.: I don't have a safe answer for that. I just figured that... you... 

Dr. Cox: Clam up, Newbie! I wanted you to think about yourself... and I mean *really* think!... What are you good at? What do you suck at? And write it down. Not so I could read it, or anyone else could read it. But so *you* could read it! You see in the end, Newbie, you don't have to answer to me, or to Kelso, or even to your patients, for God's sake! The only one you have to answer to, Newbie, is you! There, *you are* evaluated. Now get out of here, because you truly make me so damn mad I might just hurt myself! 

Sunday, April 03, 2011

“Apakah Perang Itu Baik atau Buruk?” – Kelas PSP-ku, Diskusi Panel dan Kakekku

Ketika saya akhirnya punya otoritas untuk memilih sendiri mata kuliah yang saya inginkan di semester tiga kuliah saya di HI UGM, salah satunya adalah Kelas Pengantar Studi Perdamaian.

Salah satu kegiatan kelas ini adalah, tentu saja, berdiskusi, atau mungkin dalam cerita ini berdebat – atau lebih tepatnya “diserang dari segala arah”. Hahaha!

Salah satu hal yang akan selalu saya ingat dari kelas itu adalah sebuah simulasi diskusi panel dengan pertanyaan utama “Apakah perang itu baik atau buruk?”. Saya memilih untuk berbicara tentang ‘perang itu baik’ (astaga, kalimat ini sepertinya mengesankan saya sebagai seorang yang gila kekerasan). Anyway, saya memilih untuk berbicara tentang itu karena saya ingin ‘keluar dari zona nyaman’. This is a class, and I want to explore the theme. Dan itu tidak lantas mewakili pendapat pribadi saya kan?
Atau iya? 


Hm.

Terlepas dari persoalan keluar dari zona apapun, apa yang saya sadari sekarang adalah, bahkan alam bawah sadar saya saat itu memerintahkan saya untuk memilih pilihan yang kedua. Dan ada alasan di balik itu.

Saya terlahir di sebuah keluarga yang rasanya bukan tipe keluarga atipikal di Indonesia – keluarga Jawa patriarkal. Kakek saya adalah ‘raja diraja’ keluarga kami. Dan beliau adalah seorang prajurit, atau tepatnya seorang purnawirawan ketika aku lahir. But, hey, once a soldier, always a soldier. That’s what they said. Dan saya percaya itu, karena buktinya ada di depan mata saya sendiri. Jiwanya, kedisiplinannya, keputusannya, caranya berbicara hingga makan, semuanya mencerminkan kepribadian seorang prajurit yang dilatih di barak militer. Rumah keluargaku yang pertama terletak tepat di belakang rumah kakekku, sehingga dapat dikatakan, setiap hari selama aku tumbuh, aku menghabiskan waktu bergantian dengan orang tuaku dan beliau. Ketika pagi badanku terbungkus seragam putih-biru TK, kakek sudah berdiri tegak, tinggi dan tegap di depan pintu (but somehow his ‘spartan’ presence at that time didn’t stop me from stroking his beard… J), tersenyum manis, dengan kaos tentara, celana panjang dan ikat pinggang ‘militeristik’, siap menggandengku untuk pergi ke sekolah. Dan itu berlanjut hingga badanku terbungkus seragam merah putih.

Selama aku tumbuh dengan dia pula, kakek selalu bercerita tentang masa-masa ia menjadi prajurit, masa-masa ‘berjuang’, baku tembak dengan pasukan Jepang atau pasukan RMS. Beliau bercerita soal acara mencukur rambut bersama-sama di barak, dansa lenso di waktu lengang atau bercengkerama dengan gadis-gadis yang tinggal di sekitar barak (ehem, ehem…).
Satu hal lain yang juga sering ia ulang-ulang dalam ceritanya adalah tentang mosi ‘apa yang bisa kita dapat, kita lakukan dan kita alami karena adanya perang’ bukan kebalikannya. He was so smitten by the patriotic image of soldier, dan somehow, semua itu terekam kuat di dalam memoriku dan ya, alam bawah sadarku. Kakekku bergabung dengan militer karena citra ‘heroisme’ yang menurutnya sangat kuat, dan dia ingin merasa berguna bagi negara yang ia anggap ‘masih tak cukup nyaman untuk anak-cucuku kelak’ dengan pergi bertempur – sebuah konsep yang sekarang lebih sering kita adopsi untuk perjuangan keras mencapai cita-cita.

Tak pernah aku berpikir waktu itu, bahwa kelak aku akan berada di kelas PSP, berdiskusi panel dengan teman-teman cerdas yang akan membombardirku dari segala arah karena sudah cukup punya nyali menyentuh area ‘perang itu boleh’ hanya karena alasan pragmatis seperti ‘tanpa perang kita tidak akan punya alat komunikasi canggih yang berkembang luas seperti sekarang’, ‘tanpa perang kita tak akan menjadi saksi sejarah terbentuknya MER-C’ atau ‘tanpa perang, karya Leo Tolstoy tak akan berjudul “War and Peace”’ (oke, yang ini sangat tak beralasan, sekali lagi, aku sedang mabuk obat). Hari itu salah satu wajah paling bodohku terpasang di mukaku, aku memerah, tetapi teramat bingung dengan kenyataan bahwa apa yang aku ingat dari cerita kakekku adalah kebalikannya. Aku tidak mampu berkata-kata, tetapi aku berusaha kuat di depan, karena aku bukan drama queen yang tiba-tiba saja menghambur keluar dari ruangan dan menangis di kamar mandi. Sebelum tulisan ini berlanjut, aku mengatakan bahwa tak ada niatku untuk menyudutkan kakekku atau menyamaratakan pengalaman dan pendapat pribadi mereka atau menyindir siapapun di kelas PSP pada hari itu (aku pun tak ingat lagi wajah-wajah mereka, ingatanku tak cukup fotografis untuk itu).

Karena itu, tulisan ini harus dibaca hingga selesai.

Hari itu pengalaman masa kecilku dibongkar paksa. Kuingat-ingat lagi apa yang dikatakan dan diceritakan kakekku dan apa yang berubah dari masa itu. Aku dibuat penasaran, sekaligus helpless karena faktanya adalah: kakekku sudah meninggal sebelum aku masuk kuliah. Kepergiannya begitu tiba-tiba, tanpa kata-kata terakhir, tanpa pelukan atau kesempatan untuk mengelus jenggotnya lagi. Aku tak punya kesempatan ‘mengonfirmasi’ cerita-ceritanya selama aku tumbuh besar bersamanya. Anyway, let’s not make this a sad story, shall we? Saya tidak sedang sedih, kok.

Pelajaran pertama yang aku praktekkan dari peristiwa hari itu adalah: tidak sombong. Ya, tidak sombong. Dari titik itu aku memutuskan untuk menurunkan egoku, karena ternyata ada hal-hal di luar dunia ‘cerita kakekku’ yang harus aku ketahui. Tanpa kerendahan hati untuk bertanya dan meminta ‘pertolongan’, aku tak akan paham apapun. Jika aku sombong pada hari itu, maka aku akan bersikeras dan bertahan, hingga mungkin saja aku akan tumbuh menjadi seseorang yang permisif terhadap perang. Pelajaran yang kedua adalah bahwa jika Anda belajar dengan segenap hati, maka Anda akan paham bahwa sesungguhnya Anda belajar tentang diri Anda sendiri, tentang hidup Anda, masa kecil Anda, pertanyaan-pertanyaan pribadi Anda, kekhawatiran Anda, bahkan trauma Anda. Di akhir pembelajaran, jika Anda cukup peka, Anda akan meluangkan waktu dengan orang yang paling dekat dengan Anda: diri Anda sendiri.

Beberapa mata kuliah yang kuambil di HI pun juga kemudian kugunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa kutanyakan pada kakekku. Salah satu kelas itu adalah kelas Militer dan Politik. Ada tujuan yang lebih besar dari sekadar mendapat nilai A. Aku ingin memahami kakekku, aku ingin mengerti beliau. Di kelas itu, tanpa sadar, aku menemukan berbagai penjelasan mengenai sikap kakekku, tingkah lakunya, keputusan-keputusannya, prinsip hidupnya, cara ia memperlakukan keluarga dan teman-teman sekaligus cara ia berpikir dan pandangannya tentang profesinya sebagai prajurit. Rasanya semua hal yang dulu bertebaran di mana-mana mulai bisa disatukan sedikit demi sedikit. Semua hal yang dulu tak terjelaskan, mulai menjadi lebih cerah. Dan aku bersyukur untuk itu. Aku diberi kesempatan untuk belajar.

Pelajaran yang ketiga: kadang-kadang hasil dari perenungan itu akan memberikan fakta yang baru. Aku menyadari, kakekku pun belajar. Ingatan-ingatan acakku ketika beliau masih hidup pun mulai kembali, tetapi dengan bingkai yang berbeda. Aku ingat wajah prihatinnya melihat berita perang, aku ingat bagaimana ia setiap hari membaca koran dan selalu berusaha tahu apa yang terjadi dengan dunia dan kemudian menyampaikan apa yang dia pelajari kepadaku, termasuk akibat perang dimana-mana. Aku ingat kakekku tak pernah mengizinkan anak-anaknya mendidik cucu-cucunya dengan kekerasan, baik fisik maupun verbal karena katanya “saya tidak membesarkan kalian dengan cara seperti itu”, aku ingat ia yang pernah berprofesi sebagai prajurit dan kata orang adalah profesi yang ‘me-manage violence’ merawat taman depan rumahnya dengan penuh kasih sayang, aku ingat ia selalu memberi makan kucing tetangga sebelah setiap ia selesai makan siang, aku ingat ia memandikan kami cucu-cucunya dengan sabar dan aku ingat ia mengatakan padaku “kamu mungkin gendut, tapi cucu mbah ini tetap cantik”.

Aku ingat, kakekku juga belajar. Bahkan ketika ia sudah tua. Ia pun belajar. Ia bukanlah seorang yang gila perang hanya karena beliau seorang prajurit. Kebanggaannya yang pernah memegang senjata tak membuatnya berhenti belajar dan kurasa ia akhirnya memahami, bahwa dunia akan lebih baik tanpa perang. Kurasa salah satu poin pembelajarannya adalah ketika ia merasakan sendiri ketakutan akan konflik Sambas, karena salah satu anak perempuannya bermukim di KalBar dan sempat mengungsi ke rumahnya, membawa berbagai kecemasan akan akibat konflik. Dan setelah semua pembelajaran, aku pun sering mengulangi lagi sesi diskusi panel itu di dalam otakku, dengan jawaban yang kalian semua pasti sudah tahu setelah membaca hingga di titik yang ini.

Well, kurasa wajah bodohku hari itu adalah sesuatu yang baik. Aku berkesimpulan: with me looking like a fool, comes a great chance to learn great things – about myself.

Jadi sebenarnya, apa sih yang ingin kukatakan di tulisan tak beraturan ini (perlu kuingatkan lagi bahwa aku sedang berada di bawah pengaruh obat demam?)

My grandpa’s gone for a reason. But there’s always a silver lining. Always.



Sofia Ariani
Yogyakarta, 9 November 2010




PS: Untuk Mbah Kakung-ku yang sangat, sangat, sangat aku sayangi: may you rest in peace, I miss you so very much.

*Ditulis di atas kasur, dengan suhu badan tinggi dan lendir di hidung (astaga, bilang saja ingus) yang belum mau berkompromi sejak minggu lalu, tetapi tidak cukup rela menghabiskan waktu hanya untuk tidur seperti nasehat dari dokter yang meresepkannya obat berefek “psychedelic”, sehingga pelafalan “bakso”, “nasi goreng” dan “kerupuk” oleh Barack Obama di siaran jamuan makan Istana Negara hari ini terdengar sama maha karyanya dengan “Kompor Mleduk”-nya Bang Benyamin.*

Saturday, June 26, 2010

Diam Seringkali Tak Menyenangkan

Ketika kita diam, kita mau saja dibawa jauh oleh waktu
Kita tidak sadar kalau begitu banyak hal yang kita lewati
Begitu banyak pilihan yang harusnya bisa kita ambil
Kita banyak berpikir dalam setiap awal tindakan kita
Banyak meminta kepada diri kita untuk lebih bersabar
Karena mungkin nanti kita bisa punya pilihan yang lebih baik kalau kita melewatkan yang ini
Mau apa kita kalau tak bisa berjalan di malam hari untuk tahu kalau kehidupan memang benar ada dan memang selalu berubah
Kita kesal tapi kita tidak mau tahu lagi karena kita pikir kita sudah terlewat jauh
Kita bilang kepada diri kita sendiri supaya jangan menangis, karena sudah tidak berguna lagi
Paling tidak untuk saat ini
Karena mungkin masih banyak hal-hal menyedihkan lain yang lebih pantas menerima air mata kita
Bukan hal-hal sepele atau bodoh seperti  yang selalu dibawa orang lain berlebihan
Kita mau tahu kenapa kita merasa bersalah
Padahal sebenarnya karena rasa bersalah itu berakar sangat jauh kita entah bagaimana tidak bisa merasakannya lagi
Kita juga mau tahu kenapa kita bisa begitu jahat
Setelah berpikir lagi
Kalu tak begini kita mau bagaimana lagi
Aku tidak mau tahu, tapi aku tahu dan itu adalah bgian yang sangat menyakitkan dari semuanya

Thursday, March 25, 2010

"Tale of Cities" - How Cities Play Roles in Deterioration and Improvement of Climate Change





“Little by little, the world understands that mankind is now urban and continues its urbanization at a fast pace. In the next decades, almost all of the demographic growth will take place in cities of developing countries, and the world is going to double its urban population”.


Climate change has become one of the most crucial issues in world view. Global greenhouse gas emissions (GHG) have doubled since the early 1970s, reaching 74 gigatons of CO2 rate in 2005. If such trajectory continues, global greenhouse gas emissions will increase into more than 50% by mid-century, causing global temperatures to rise from 1.7 to 2.4 degrees Celsius (°C) way above pre-industrial levels, approximately by 2050, and presumably from 4 to 6 °C in the long-term. Increasing rate of greenhouse gas emissions are likely to lead to massive disastrous phenomenon: floods and droughts, violent storms, intense heat waves, and even worse, escalating conflicts over food and water and resources (this is definitely shows how environmental issue could lead to political conflict). Moreover, cities are obviously part of the climate change problem, but they are also a key actor that able to offer revolutionary solution. It is true that cities consume the vast majority of global energy and are major contributors of greenhouse gas emissions. Yet, at the same time, the coastal location of many cities makes them became the common targets for climate change impacts such as sea level rise and much fiercer storms.


How to Explain Cities Relation to Climate Change?
Cities have a key role in addressing the challenge of climate change. Nowadays, approximately half of the world’s population lives in the cities; by 2050, that proportion will probably have increased to two-thirds. Playing the role as key instruments of the national and even global economy, cities are responsible for the amount of national output, innovation and employment. Therefore, it is not surprising if cities consume a great majority of energy production worldwide and taken into account for an equal share of global greenhouse emissions. All projections indicate that this trend will continue as urban populations grow. If urbanisation is contributing to the increase in CO2 emissions, many cities are also likely to be affected by climate change. The tendency for cities to be located in coastal areas increases their vulnerability to water-related disasters, increasing the risk to property, livelihoods and urban infrastructure.


On Deterioration
As we have acknowledged, cities also hold responsible for the deterioration of climate change. Nowadays, at least half of the world’s population lives in urban areas, and this share is increasing from time to time. Cities consume a great majority of energy production worldwide and account for an equal share of global CO2 emissions. Countries that have more urbanised cities tend to create higher levels of CO2 emissions. Greenhouse gas (GHG) emissions in these cities are increasingly driven more by the energy services required for lighting, heating and cooling, appliance use, electronics use, and mobility. Growing urbanisation will mostly lead to a significant increase in energy use and CO2 emissions.


The tendency for cities to be located and its activity to be centered in coastal areas increases their vulnerability to water related disaster, increasing the risk to property, livelihoods and urban infrastructure. Rising sea levels are a critical issue for major cities, and this also has been a crucial issue in Kyoto Protocol as well as its possible successor -in any name- that emphasize second period of commitment. In Europe, 70% of the largest cities have areas that are less than 10 meters above sea level. Port cities like Kolkata, Shanghai, Guangzhou, Miami, New York City, Tokyo, Osaka, Rotterdam and Amsterdam are among those cities which face risk of coastal flooding and heat waves.


In most metropolitans or urbanized cities, energy use (that is obviously lead to carbon emission) is primarily driven by how electricity is produced and how it is being used. Urban population density and spatial management are significant factors that influence energy consumption, especially in the transportation and public buildings. The increase rate of urbanisation has been accompanied by the fact that urban land area is doubling.


When it comes to lifestyles, cities’ emissions can vary depending on it, alongside with city spatial mapping and transport management. In other words, it is not only city’s policy or simply the rate of urbanization that contribute to GHG emissions, but also the way people move in and around the city as well as the way people use energy at home and how buildings are heated (or cooled). Yet, as urban areas become more populated and rely heavily on public transport, carbon emissions are likely to be reduced. It has to be put in mind that not all cities in the same country have the same lifestyles, nor do they contribute to carbon emissions in the same way. For example: although the US in general is the country with the highest rate of carbon emissions (heavily affected by its very high private vehicle use), one city such as Los Angeles shows higher concentration of CO2 emissions than New York City, even though New York City has the largest population in the country (approximately 60% bigger than New York City).






On Improvement
Many cities around the world are taking action on climate change, even in the absence of national policies - notably Seoul, Stockholm, Toronto, Copenhagen, New York, London, and Tokyo have done several programs that could be called unique or even revolutionary. Middle size and smaller cities have also created revolutionary climate policies, such as Mannheim and Freiburg in Germany, Toyama in Japan, Nantes in France and Boulder in US. It is clear that cities have the ability to take action relating to climate change through their responsibilities over urban sectors such as land-use spacing, transportation, natural resources management, buildings, waste and water services as well as disposal.



City or municipal officials are also able to make decisions that determine or influence public transportation systems, renewable energy and energy efficiency measures, as well as sustainability in development. Cities are definitely a key player in developing policy that offers solution which are suitable to specific geographic, climatic, economic, and cultural conditions. Once the innovative policy has been developed by the cities officials, the solutions derived from it could be adapted into regional or national programs. Last but not least, cities could provide its land as micro-laboratory for national pilot programmes on the urban level.


One great example must be Freiburg in Germany, a historic town in South-Germany that has long been a leading role-model as eco-town with its solid environmental policy for over two decades. Freiburg's eco-town development came about through a combination of necessity and innovative thinking:1.) Land for development is scarce. It is one of the few cities in Germany with a growing population, and has to build 850-1,200 homes a year to keep pace. 2.) Freiburg was rebuilt almost completely after the Second World War, on the principles of good urban design and landscaping, with a large traffic free centre and a 3,000 km network of light rail, buses and urban railways. 3.) The city government has been controlled by the Green Party for several decades, and has a history of environmental innovation dating from the mid-70s.






Conclusion
“In the class discussion after I had finished my presentation, the apparently simple question that most puzzled my students was one whose actual complexity hadn’t sunk into me before: how on earth could a society make such an obviously disastrous decisions as to cut down all the trees on which it depended?”


Jared Diamond, Collapse, 2005


The question above is considered to be important by the writer since it is obvious that even though many cities have managed to arrange their own environmental policy, most of others are still carrying the status as “climate change evils”. What should be notice is that, environmental policy relies heavily on the success of group decision-making. In this context, group decision-makings include cities’ citizens and their officials. It is definitely hard to unite every interest that vested in the mind of individuals and groups, but postponing any policies that are crucial for climate change means denying the deterioration of climate change itself. By denying it, people are contributing to their own misfortune concerning the environment. It should be put in mind that the whole cities, with their citizen and apparatus, must make some sacrifices for a no-regret policy.


References:
Cavin, J. Salomon; Leippert, Anouk and Helluin, Jean-Jacques. (2009). Climate Change and the Role of Cities in the Strategies of International Institution. Fifth Urban Research Symposium.


Kamal-Chaoui, Lamia and Alexis Robert (eds.) (2009), “Competitive Cities and Climate Change”, OECD Regional Development Working Papers N° 2, 2009, OECD publishing, © OECD.


UN - United Nations. (2007). World Urbanization Prospect: the 2007 Revision, Population Division, http://www.un.org/esa/population/publications/wup2007/2007WUP_Highlights_web.pdf

Tuesday, March 02, 2010

"Bridging" Equals "Linking": Yogyakarta's Micro-Scheme on Linking Urban and Rural Life





I am a politics student majoring in International Relation in Gadjah Mada University, Yogyakarta. Being and IR student heavily requires me to be an active thinker in figuring the phrase 'global to the local'. It led me to be a 'diversity seeker' and Yogyakarta certainly offers the need of fulfilling my 'cultural complexity' exhaustion with its 'Never Ending Asia' jargon. It is a small city, though. It is also the capital of Yogyakarta Special Region, or I could say, capital city of Javanese divine culture.


At certain levels, Yogyakarta is conventional, but in other fields, it serves 'the metropolitan dreams' which somehow looks very 'tempting' to the people living in rural areas, with or without talent when it comes to survive in a city. Needless to say that the so-called 'globalization' has became the means that hugely change the face of the city into a 'shopping heaven' or 'breadwinners fields of gold'. In the end, it invites people from rural area around Yogyakarta city to come and resides, temporarily or permanently. The people who were 'left behind' by the rapidness of development in Yogyakarta ended up being poor or even poorer than before.
These people then trapped in several slums area, wrestling everyday with the bitterness of ghetto life. One of the biggest slum areas in Yogyakarta is concentrated in Kali Code, oddly situated alongside huge houses owned by the 'haves'. This is an urban problem. It gave us some causes to think about: densification of urban population, poverty, unemployment, exclusion and even the rise of 'revenge crime'. For poor children and teenagers, the possibility of living in a playful, healthy and easily-accessed educative environment is zero. This phenomenon keeps on recurring as the number of people living in rural area moving to urban area is increasing.






If we even have time to talk about the not-so-poor children and teenager, they are also affected because the density of Yogyakarta and the needs of land barely left them with a proper place to play and interact with their friends. It is such a lost, because playing activity is a stimulant to build these youngsters' vision of their future life.


As an intensifier is the fact that Yogyakarta is also famous for its higher-level education institutions. So famous, it is called as "The City of Students". It absorb students from almost every province in Indonesia and that including myself, originally came from Balikpapan, second biggest city in East Kalimantan province. In my hometown, we have this similar problem but not as intense as in Yogyakarta. As I myself is one of young people, the challenge that we have to overcome-in order to be included in the urban problem issue-is to break through the Spartan-concrete wall of a common cliché: "A belief that maturity and competency are merely based on how long a person had spent time in the surface of our beloved Earth". The other is the ongoing birth of apathetic young people, indulged by the consumptive-driven niche.


But then, I had the chance to witness the not ignorant young souls, helping rural people develop by utilizing theirs and their environment potential. I should say that the solution brought up in this essay might works in a different way. Instead of only dealing with urban space, this solution emphasizing on how important it is to also make the rural people realize the worth-livingness of their rural space. This is crucial since the biggest issue that has to be addressed is urbanization. It is not merely about hampering people to come to the city, but more as to facilitate the willingness of rural citizen to improve their quality, so they won't have to be the victim of city's Kraken-like hardship.


It started with a class project in my campus. I belong to a group which had the obligation to observe the way people in Yogyakarta city, respectively, build their distinct resistance strategy in dealing with the likely impact of globalization. We found a place called ViaVia Traveller's Café which also acted as the office of ViaVia Resto-Travel. It is actually a branch of Living Stone, a transnational tourism institution from Belgium. What makes this joint distinct is the insistence of not acting as' McViaVia 'but solely as' ViaVia Yogyakarta '. It practices the idea of' linking 'by Brecher and Costello who derived inspiration from the worldly renown "Gulliver's Travel".






The member of this body is young people mostly came from Yogyakarta itself and also those who believe that rural citizen has the not-yet-actualized potential. If that potential is developed and functionalized, it will certainly be a good motivator for people to stay in rural area - for a good and make sense causes. ViaVia build bridges that link people in urban place to enjoy and respect the rural lives through activities as bicycle riding tour, traditional herb course, religion tour, agriculture tour, etc - all of them are held in villages close to Yogyakarta city which often gives the urban area an additional 'population'. It help rural citizen to interact with people, manage financial issue (since they earn income from these activities), maximize their environment potential with sustainable manner and even train them with simple English for conversational use.


In the end of my class project, we heard confession that opened our eyes: a man who decided to return to his village after five years struggling in the city. He saw opportunities, and most importantly, hopes, from such program. It gave him the live that he expected; with dignity, respect and citizenship. Not only had he returned, he also brought back some of his friends to the village who also used to lived in the city. This is clear: even though this might be a little thing for urban citizen, it is a huge change for the rural people. It could be a great solution for the municipal and city government before they decided to manage city space, which in the case of my country, often turn into a forced eviction case.


Friday, November 27, 2009

DeLeon and Kautsky on Reform and Revolution


The Beatles, "Revolution"


DeLeon mendefinisikan reformasi dan revolusi dengan menggunakan perumpamaan yang sangat mudah dipahami lewat khayalan fisikal seekor anjing pudel. Baginya, reformasi adalah suatu perubahan eksternal, perubahan-perubahan yang diusahakan tidak serta-merta mengubah bentuk dasar dari sesuatu; sehingga secara fundamental sesuatu itu adalah sama. Tetapi, perubahan eksternal membuat sesuatu itu mengalami transformasi, walaupun tidak komprehensif. Bayangkan seekor anjing pudel yang dipelihara oleh orang-orang berbeda yang memiliki kecenderungan masing-masing dalam memperlakukan hewan peliharaannya, tetapi tidak lantas mengubah anjing pudel itu menjadi makhluk hidup lain atau memberi fungsi biologis baru dari organ-organ dalam tubuhnya.
Sementara revolusi adalah sesuatu yang lebih luas; perubahan besar-besaran secara fundamental yang menyentuh mekanisme internal suatu komunitas, berlawanan dengan reformasi. Bayangkanlah perubahan fundamental makhluk hidup invertebrata di zaman prasejarah awal hingga mengalami proses perubahan menjadi hewan vertebrata yang kemudian ikut pula mengubah fungsi-fungsi organ tubuh untuk bertahan hidup. Tentu saja, tidak ada perubahan internal tanpa manifestasi eksternal. Perubahan hewan invertebrata menjadi vertebrata tentu tetap menghasilkan ’external marks’. Menurutnya, kaum sosialis adalah kaum revolusionis, bukan reformis. Kaum sosialis tidak terlalu mengindahkan ’bentuk’ tetapi perubahan internal di dalam mekanisme komunitas; bentuk akan dapat menyesuaikan dirinya.


DeLeon menggunakan tiga ’nerve center’ dalam memberikan pemahaman tentang perbedaan revolusi dan reformasi sekaligus penalarannya tentang bagaimana seharusnya revolusi itu diargumentasikan. Ketiganya adalah ’government and/or state’, ’materialism morality’ serta ’class struggle’. Melalui pertanyaan tentang fungsi negara atau pemerintahan serta batasan-batasannya, ia berargumen seiring dengan penemuan sumber daya dan cara-cara pemanfaatannya, maka secara natural manusia mulai membuat ’kesenjangan-kesenjangan’ ala mereka seperti perbedaan jender, kemampuan, majikan dan buruh, the able and the unable, dll. Ini tentu menghambat cita-cita kaum sosialis untuk menghapuskan perbedaan kelas, maka menurutnya, di sinilah seharusnya revolusi dijalankan, mengubah mekanisme negara dan/atau pemerintah, tidak sebagai pendominasi tetapi sebagai pengatur proses produksi. DeLeon mengilustrasikannya dengan membahas keadaan suku Indian yang hidup dalam kondisi komunitas yang memerlukan sebuah ’central directing authority’ agar tercipta keharmonisan dalam kehidupan komunitas mereka.
Moralitas materialisme, menurut DeLeon tidak menjadi sebab dari revolusi tetapi merupakan bantuan yang sangat powerful bagi revolusi itu sendiri. Ia menggunakan metafora kenyataan bahwa awalnya leluhur kita adalah kaum kanibal yang digambarkan ’memakan orang-orang atau budak yang kalah perang dari mereka’. Tetapi, seiring dengan perkembangan sistem sosial yang memungkinkan mereka untuk menciptakan mekanisme kontrol bagi budak-budak mereka, mereka melihat bahwa ini memberikan keuntungan bagi eksistensi mereka. Dalam perkembangannya, kanibalisme kemudian memiliki makna peyoratif dalam pandangan sosial penerus leluhur kita. Begitu pula dengan kenyataan nasib kaum pekerja. Seiring dengan perubahan mekanisme sosial yang melihat kebaikan kaum ini, maka diharapkan mereka akan memenangkan antagonisme kelas. Pandangan bahwa kaum pekerja memiliki nasib buruk adalah energi luar biasa bagi revolusi, bukan sekadar reformasi. ‘Nerve center’ yang terakhir adalah ‘class struggle’. Reformasi tidak memungkinkan perubahan keseluruhan dalam pola masyarakat yang kaum pekerjanya dieksploitasi oleh kaum pemilik modal, tetapi revolusi akan memberikannya, dalam waktu yang notabene singkat.


Kautsky, berlawanan dengan penalaran DeLeon menawarkan konsep reformasi dan revolusi yang berbeda. Revolusi, bagi Kautsky tidak selalu berarti sebagai usaha mengubah sebuah political atau social superstructure di dalam suatu masyarakat secara keseluruhan tetapi ada pengertian yang lebih ’dangkal’ bagi terma ini. Revolusi dipahaminya sebagai usaha menjalankan metode-metode tertentu dalam bertransformasi. Bagi Kautsky, revolusi diawali oleh serangkaian reformasi. Revolusi dijelaskan dalam bentuk ’lompatan-lompatan’. Ukuran-ukuran yang digunakan untuk menyesuaikan diri dengan political dan social superstructure, untuk mengubah kondisi ekonomi adalah reformasi jika dibawa oleh kelas yang merupakan kelas dominan. Sementara, ukuran-ukuran tersebut adalah revolusi jika dihasilkan oleh kelas yang tereksploitasi. Reformasi sosial, tidak hanya sebagai bentuk penyesuaian diri, tetapi juga mempertahankan kepentingan ruling class. Revolusi sosial sebaliknya menentang semua ini, karena dari awal sudah mengalami interests incompatibility dengan ruling class. Kautsky menerima analogi kelahiran dan revolusi sebagai hal yang mirip, tetapi baginya tidak mutlak. Kelahiran adalah suatu kejadian yang sebelumnya harus melewati berbagai proses transformasi dan perkembangan setahap demi setahap, kemudian lompatan besarnya adalah manusia yang memiliki fungsi-fungsi tubuh yang sempurna.
DeLeon dan Kautsky sendiri sepertinya memiliki niat yang sama dalam menjelaskan perbedaan konsep reformasi dan revolusi. Seiring dengan kenyataan bahwa kaum kelas pekerja yang ’berorganisasi’ sepertinya tidak beranjak dari posisi awal mereka, DeLeon dan Kautsky merasakan bahwa ini salah satunya disebabkan ketidakpahaman tentang konsep revolusi dan reformasi yang seharusnya memainkan peranan kunci dalam mewujudkan negara yang dikuasai oleh rezim proletariat. Cara mereka mengargumentasikan konsep revolusi dan reformasi sangat tergambar dalam cara mereka mendefinisikannya seperti pada uraian di atas.


Freire on Pedagogy of the Opressed

Bagi Freire, tujuan utama dari pedagogi kaum tertindas adalah sangat umum; membebaskan kaum tertindas dari kenyataan sejarah yang subyektif dan ’memasukkan’ mereka ke ’tempat’ yang lebih objektif, dimana mereka mampu membebaskan pikiran dan tindakan mereka. Pedagogi kaum tertindas adalah pedagogi yang hanya dapat dijalankan oleh kaum tertindas, tetapi pada prinsipnya akan membebaskan setiap kaum, termasuk kaum penindas itu sendiri karena kaum penindas tidak akan pernah dapat membebaskan diri mereka sendiri.
Kaum tertindas seringkali mengalami tekanan atas cara berpikir dan bertindak mandiri, atas hak dan keharusan untuk menjadi manusia seutuhnya, atas hak untuk menjadi bagian dari kenyataan obyektif dan hak untuk membuat perubahan melalui revolusi. Ini semata-mata karena kaum tertindas harus dipertahankan sebagai kaum yang tidak pernah mencapai kesadaran serta harus terus terperangkap dalam false generosity yang dilancarkan oleh kaum penindas.
Keadaan di atas semakin diperparah ketika kaum tertindas tidak memiliki sumber political power yang memadai untuk melawan kaum penindas. Tetapi, Freire merumuskan sumber lain yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh kaum tertindas, yaitu dengan menciptakan kecenderungan pembebasan pikiran melalui proses edukasi yang kemudian akan merumuskan pedagogi kaum tertindas.

Pedagogi kaum tertindas, dalam konteks perlawanan, kemudian menjadi penting untuk berbagai alasan, yaitu:
1) pedagogi semacam ini akan membantu kaum tertindas menciptakan kesadaran bahwa perlawanan yang mereka lakukan bukan semata-mata untuk changing poles tetapi lebih untuk merestorasi sisi kemanusiaan, baik pada kaum tertindas maupun kaum penindas,
2) pedagogi kaum tertindas adalah jalan untuk menuju kesempurnaan fase praksis dalam perlawanan kaum tertindas,
3) pedagogi kaum tertindas bertindak sebagai reflektor bagi kaum tertindas; ”explaining to the masses their own action”,
4) untuk mencapai tujuan pembebasan, kaum tertindas harus menghadapi realitas secara kritis dan hanya pedagogi kaum tertindaslah yang memungkinkan hal ini, mencegah dari munculnya false substitute,
5) kaum tertindas menggunakan pedagogi kaum tertindas untuk menghapuskan semua kultur dominasi dan penindasan sekaligus menggunakannya sebagai landasan transformasi,
6) pada akhirnya, pedagogi kaum tertindas akan menjadi pedagogi milik semua kaum dalam proses pembebasan yang permanen.



“Dalam kehidupan masyarakat yang sangat kontras itu, lahirlah suatu kebudayaan yang disebut Freire dengan kebudayaan “bisu”… Dalam kebudayaan bisu yang demikian itu kaum tertindas hanya menerima begitu saja segala perlakuan dari kaum penindas. Bahkan, ada ketakutan pada kaum tertindas akan adanya kesadaran tentang ketertindasan mereka. Itulah dehumanisasi karena bahasa sebagai prakondisi untuk menguasai realitas hidup telah menjadi kebisuan. Diam atau bisu dalam konteks yang dimaksud Freire bukan karena protes atas perlakuan yang tidak adil. Itu juga bukan strategi untuk menahan intervensi penguasa dari luar. Tetapi, budaya bisu yang terjadi adalah karena bisu dan bukan membisu. Mereka dalam budaya bisu memang tidak tahu apa-apa. Mereka tidak memiliki kesadaran bahwa mereka bisu dan dibisukan. Karena itu, menurut Freire untuk menguasai realitas hidup ini termasuk menyadari kebisuan itu, maka bahasa harus dikuasai. Menguasai bahasa berarti mempunyai kesadaran kritis dalam mengungkapkan realitas. Untuk itu, pendidikan yang dapat membebaskan dan memberdayakan adalah pendidikan yang melaluinya nara didik dapat mendengar suaranya yang asli. Pendidikan yang relevan dalam masyarakat berbudaya bisu adalah mengajar untuk memampukan mereka mendengarkan suaranya sendiri dan bukan suara dari luar termasuk suara sang pendidik.”(1)

(1) M. Manggeng, Pendidikan Yang Membebaskan Menurut Paulo Freire dan Relevansinya Dalam Konteks Indonesia, INTIM - Jurnal Teologi Kontekstual, Edisi No. 8, Semester Genap 2005, hal. 41-42, . Diunduh pada 24 November 2008.

Che on Guerilla Warfare


Guerilla warfare atau perang gerilya bagi Che adalah suatu metode yang tidak asing dalam kenyataan dunia, ia digunakan dalam banyak perlawanan dan peristiwa, dari Sandino hingga Mao. Asia, Afrika dan Amerika Latin telah menjadi panggung-panggung utama dari pelaksanaan perang gerilya. Bagi Che, mereka yang mengecam taktik perang gerilya sebagai taktik perang yang melupakan perjuangan rakyat itu sendiri adalah hal yang jelas salah karena mereka berdua pada dasarnya tidaklah bertentangan satu sama lain.


Implementasi perang gerilya oleh Che didasarkan pada tiga hal yang dikontribusikan oleh Revolusi Kuba, yaitu pertama, rakyat ’dapat’ benar-benar memenangkan perang melawan kaum tentara. Kedua, rakyat tidak harus menunggu hingga keadaan betul-betul mendukung untuk melakukan revolusi; kudeta dan pemberontakan akan menghasilkan keadaan itu. Ketiga, di daerah yang belum berkembang seperti di Amerika Latin, wilayah pertempuran perang gerilya haruslah mengambil tempat di pinggiran wilayah kota. Daerah pinggiran kota yang tidak berkembang inilah yang justru menyimpan potensi pasukan dan gerakan revolusioner yang besar.

Argumen-argumen yang paling fundamental yang mengukuhkan taktik perang gerilya sebagai alat utama gerakan revolusioner adalah sebagai berikut:


1. Menerima fakta bahwa musuh akan terus berjuang dan bertempur untuk mempertahankan eksistensinya adalah sekaligus menerima bahwa kaum tertindas harus merancang sebuah ’people’s army’ untuk menghancurkan dan mengalahkan musuh tersebut.


2. Fakta kolektif tentang keadaan di sebagian besar wilayah Amerika Latin yang ditekan oleh sistem feodal pemilik latifundia atau hacienda yang kemudian juga memunculkan semangat pemberontakan dari kaum tertindas.


3. Adanya iklim pemberontakan yang bersifat kontinental di wilayah Amerika Latin.


4. Berdasar pada argumen José Marti, Che menegaskan bahwa ketika rakyat dapat menghindari perang dan masih mengobarkannya adalah sama kriminalnya dengan ketika sebuah perang yang tak terhindarkan sengaja dipadamkan.

Saturday, November 14, 2009

Mustadhafin atau Proletariat?



"Nabi Muhammad SAW sudah mengajarkan sosialisme sejak seribu dua ratus tahun sebelum Karl Marx lahir".
Haji Agus Salim
Kongres Nasional VI Sarikat Islam, Surabaya, Oktober 1921

Tampaknya ada kesamaan antara Nabi Muhammad, Tan Malaka, Ali Syari'ati, dan Haji Agus Salim: pandangan tentang Islam sebagai agama yang bersifat progresif-revolusioner dan berfungsi sebagi "teologi pembebasan". Jika Marx pernah menyatakan (dan selalu mempercayai) bahwa agama adalah candu, maka tokoh-tokoh di atas dengan kepercayaannya terhadap Islam sebagai teologi pembebasan melihat agama mereka sebagai alat revolusi; aksi melakukan perubahan fundamental dalam sistem kehidupan bermasyarakat. Perubahan-perubahan itu setali tiga uang dengan apa yang diinginkan oleh kaum sosialis seperti kepemilikan kolektif modal - modal produksi, masyarakat egaliter, dll sesudah sebelumnya mencapai kesadaran kelas yang dalam bahasa Ali Syari'ati disebut sebagai 'tingkat kesempurnaan masyarakat madani dan tauhidi'.
Kesamaan lainnya dari tokoh-tokoh di atas adalah posisi mereka sebagai penganut Islam, yang menganalisa dengan menggunakan sudut pandang keislaman serta kemudian menarik kesamaan antara sosialisme dan Islam itu sendiri; semuanya dengan bertumpu pada kenyataan bahwa mereka mempercayai suatu agama yang menurut Marx dan pendukung kuatnya, Nikolai Bukharin adalah sesuatu yang superstitious, naif serta berlawanan dengan kenyataan ilmiah. Mereka semua memiliki common ground tentang betapa konsep-konsep Islam sebenarnya adalah konsep yang 'membebaskan' sekaligus menaikkan 'derajat' kaum proletariat (dalam bahasa Al Qur'an disebut sebagai mustadhafin -- orang yang tertindas), karena itu revolusi seyogyanya mampu dijalankan oleh penganut Islam. Tulisan ini kemudian berusaha untuk menganalisa yaitu "Di titik mana Islam dan sosialisme bertemu?"

Pembahasan
Dalam tulisannya Spiritual Liberation - The Next Step to Economic Liberation (Bab VII dalam Programme of the World Revolution), Bukharin menjadi sosialis kesekian yang mengutip argumen Marx tentang agama adalah candu di dalam tubuh kaum proletariat yang membuat mereka justru tidak memiliki kemampuan atau kemauan untuk melakukan revolusi. Agama menjadi sebuah kekuasaan yang menindas. Surat-surat penebusan dosa diperjualbelikan dengan harga tinggi, para petinggi agama memiliki akses yang tinggi terhadap kekuasaan dan bisa bertindak sewenang-wenang, sedangkan kaum proletariat, 'dibombardir' dengan kisah-kisah manusia suci sekaligus dosa -dosa mereka. Yang membuat lebih parah adalah keadaan mereka yang tertindas seringkali digambarkan memang sudah seharusnya sebagai sebuah bentuk pengorbanan yang akan memberikan kompensasi akhir: surga. Tak heran bila Marx dan pendukung kuatnya menjadi oposisi utama dari kehadiran agama.



Adapun orang-orang Indonesia, dari dahulu sampai sekarang, secara sosiologis maupun antropologis, tidak mungkin menjadi masyarakat materialis seperti dogma Marxisme. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang selalu percaya akan adanya kekuatan lain diluar dirinya, yang menguasai alam serta isinya dan ini bersifat gaib. Ditambah lagi, sepanjang sejarah orang-orang Indonesia bukanlah manusia-manusia yang dihadapkan pada pilihan sekularisasi secara besar-besaran. Mereka membawa agama dan keyakinan sebagai hal yang tetap penting dalam menerjemahkan fenomena yang mereka hadapi atau alami. Keyakinan itu adalah Islam yang adalah agama dominan di Indonesia. Tan Malaka, misalnya, lahir dan berkembang di Sumatra Barat yang didominasi oleh kultur Nagari yang sangat terpengaruh dengan sistem kekhalifahan khas Islam-Arab.
Sebutlah Tan Malaka, Haji Agus Salim atau Ali Syari'ati adalah orang-orang yang mampu melawan argumen Bukharin, "Many weak-kneed communists reason as follows: 'Religion does not prevent my being a communist. I believe both in God and in communism . My faith in God does not hinder me from fighting for the cause of the proletarian revolution. 'This train of thought is radically false. Religion and communism are incompatible, both theoretically and practically. "Tokoh-tokoh ini memiliki kepercayaan bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad adalah ajaran sosialisme. Ulil Abshar Abdala, intelektual Jaringan Islam Liberal (JIL), menguatkan pandangan ini dengan menyatakan bahwa jika seseorang mengaku sebagai penganut Islam, maka seharusnya mereka membawa watak sosialisme di dalam pemikiran mereka. Tetapi, kenyataannya, tidak satu partai Islam-pun di Indonesia yang membawa panji-panji sosialisme, bahkan banyak yang menentangnya.



Bukharin Tentang Mengapa Agama dan Komunisme Tidak Berkesesuaian
"The Transition from socialism to communism, the transition from the society which makes and end of capitalism to the society which is completely freed from all traces of class division and class struggle, will bring about the natural death of all religion and all superstition".
Dalam tulisannya bersama Phreobazensky, The ABC of Communism, Bukharin menyampaikan argumen bahwa setiap kaum komunis harus melihat fenomena sosial (hubungan antar manusia, revolusi, dll) sebagai proses yang terjadi berdasarkan hukum yang mutlak. Hukum pembangunan sosial secara penuh dikembangkan oleh komunisme dan sosialisme ilmiah di atas dasar teori materialisme historis. Teori ini menjelaskan, salah satunya, bahwa perkembangan sosial tidak dibawa oleh satu kekuatan gaib apapun.
Bukharin melihat, ketidakberdayaan kaum kelas pekerja dimanfaatkan oleh kaum borjuis dengan berusaha mengabadikan pemikiran religius mereka. Bukharin menyebutnya sebagai pemikiran dan kepercayaan yang kekanak-kanakkan, terutama terhadap keajaiban atau mukjizat yang diklaim oleh kaum borjuis (bersama institusi Gereja) sebagai kenyataan. Lagi, Bukharin menyatakan bahwa kunci dari teka-teki kebenaran mukjizat adalah sangat tergantung pada 'pundi-pundi dan kantong uang para pengeksploitasi'.
Bagi Bukharin, ada konflik yang tidak dapat direkonsiliasi antara prinsip-prinsip taktik kaum komunis dengan perintah-perintah dan ilmu agama. Misalnya saja ketimpangan asal-usul manusia atau konsep di dalam Injil yang berbunyi "Whosoever shall smite thee on thy right cheek, turn to him the other also ". Kaum kelas pekerja dianggap Bukharin sudah terlalu sering menyediakan 'pipi kanannya untuk ditampar, setelah yang kiri telah diperlakukan sama'. Watak seperti ini membuat kelas pekerja yang bergantung pada pandangan naïf bahwa agama hanya sekadar jalan menuju surga (atau pilihan lain, neraka) kemudian 'mengamalkan' konsep di atas tanpa melihat bahwa inilah konsep yang dipertahankan oleh para pengeksploitasi untuk kemudian dihiasi dengan keinginan-keinginan untuk mengumpulkan kapital.



Mustadhafin dan Mustakbiri serta Sosialisme Islam
Dalam menjawab pertanyaan tentang di titik mana Islam dan sosialisme bertemu, sebelumnya harus dimulai dengan mencari tahu bahasa antagonisme kelas Islam yang sama dengan bahasa antagonisme kelas sosialisme. Dimulai dari kaum-kaumnya, Al-Qur'an beberapa kali menyebutkan kaum-kaum yang bernama mustadhafin dan mustakbirin. Dalam bahasa Marxis, mustadhafin adalah sama dengan kaum proletariat; kaum yang 'terlucuti' dan mustakbirin adalah sama dengan kaum borjuis; kaum penindas, dari era feodalisme hingga kapitalisme modern.
Mekkah pada zaman Nabi lahir, adalah salah satu pusat perdagangan dan transaksi komersial internasional. Keadaan ini menjadikan Mekkah sebagai pusat kapitalisme, terbentuk karena proses korporasi antar suku, yang menguasai dan memonopoli perdagangan kawasan Bizantium. Watak kapitalisme yang mengakumulasikan kapital dan memutarnya demi keuntungan yang lebih besar ini, berjalan melawan norma suku-suku di Semenanjung Arab pada saat itu. Akibat dari budaya kapitalisme tersebut, lahirlah ketimpangan dan kesenjangan sosial di Mekkah, yakni semakin melebarnya jurang antara si kaya dan si miskin. Nabi Muhammad, lahir di di atas keadaan ini .
Pada zamannya, Mekkah adalah suatu kota dagang dengan sedikit pedagang kaya tetapi banyak orang tak berada yang penghidupannya bergantung pada pekerjaan melayani karavan-karavan dagang yang melalui kota itu. Orang-orang masih sangat awam serta menyembah banyak sekali subyek gaib. Perempuan ditindas, bahkan mereka dapat dikubur hidup-hidup. Ada banyak budak, janda dan anak yatim yang nasibnya tak kalah mengenaskan. Muhammad sendiri berasal dari keluarga miskin, meskipun keturunan bangsawan suku Quraisy. Ia diutus oleh Tuhan untuk membebaskan rakyat dari kebodohan dan penindasan. Ia terpaksa melarikan diri dari Mekkah ketika ajaran pembebasannya ditolak.
Muhammad, yang secara harfiah berarti manusia yang terpuji, diklaim sebagai nabi terakhir dan merupakan tokoh revolusioner pertama di zaman modern. Ia membebaskan budak-budak, anak-anak yatim dan perempuan, kaum yang miskin dan lemah. Perkatannya yang mengandung wahyu menjadi ukuran untuk membedakan yang benar dari yang salah, yang sejati dari yang palsu, dan kebaikan dari kejahatan. Misinya sama dengan nabi-nabi terdahulu; supremasi kebenaran, kesetaraan dan persaudaraan manusia.
Muhammad mendirikan sebuah tatanan sosial yang egaliter di mana alat-alat produksi yang mendasar dikuasai umum dan dimanfaatkan oleh semua orang secara kolektif karena semua komunitas yang berdasarkan pada kebenaran dan kesetaraan tidak mengenal penguasaan pribadi atas sumber-sumber daya dimana masyarakat menggantungkan hidup. Untuk meningkatkan kesetaraan sosial dan persaudaraan manusia, Muhammad dengan ajaran-ajarannya, mendorong emansipasi kaum budak. Para pemeluk agama Islam yang pertama terutama adalah budak-budak, mawali (budak yang telah dimerdekakan), para wanita dan anak-anak yatim. Sehingga banyak sahabat Muhammad yang dulunya juga seorang budak. Dengan sahabat dan para pengikutnya inilah, Muhammad berjuang membebaskan 'mustadhafin' dari monopoli 'mustakbirin'.
Dalam bahasa Islam, ada terma-terma yang sama dengan bahasa sosialisme serta pemikiran Marxis; konsep-konsep seperti kesadaran kelas, antagonisme kelas, masyarakat tanpa kelas, perlawanan terhadap kapitalisme hingga 'expropriation of the expropriator'.



Kesadaran Kelas
Ali Syari'ati, intelektual muslim Iran yang juga seorang sosialis, pernah menyatakan bahwa kaum muslim di masa Muhammad yang didominasi oleh orang-orang yang tertindas telah mencapai kesadaran kelas mereka. Syari'ati menyampaikan bahwa indikator kesadaran kelas itu ada tiga pilar (yang harus dicapai dengan pemberontakan untuk memperbaiki nasib) yaitu kesadaran diri, kemauan bebas dan daya cipta. Ketika suatu kelas telah mencapai ini, maka mereka telah mencapai kesadaran yang sejati. Berbeda dengan kaum mustakbirin yang akan terus mendapatkan false consiousness apabila mereka, setelah dikalahkan oleh mustadhafin kemudian menganggap diri mereka sebagi kaum kontra-revolusioner.

Perjuangan Kelas
Al Qur'an Surat Al Ra'du ayat 11 berbunyi demikian: "Sesungguhnya Allah tiada mengubah keadaan suatu kaum, kecuali jika mereka mengubah keadaan diri mereka". Dari penafsiran ayat ini, terlihat bahwa bila kaum mustadhafin tidak mengubah keadaan mereka sendiri dengan berjuang melepaskan belenggu yang dililitkan mustakbirin di leher dan di kakinya, maka mereka tetap akan tertindas dan miskin. Kaum mustadhafin tidak akan berubah keadaannya, bila mereka hanya mengharap belas kasihan kaum mustakbirin. Kaum mustakbirin tidak akan dengan sukarela melepaskan belenggu yang mereka pasungkan pada leher dan kaki mustadhafin . Perjuangan melepaskan belenggu dari tubuh kaum mustadhafin adalah perjuangan kelas dalam bahasa Karl Marx baik dengan cara-cara reformasi atau revolusi. Ini juga sesuai dengan pernyataan Marx yang sangat terkenal di dalam karyanya, The German Ideology; "The proletarians have nothing to lose but their chains. They have a world to win. Workingmen of all countries, unite! "



Aksi Melawan Kapitalisme
Di dalam Al Qur'an Surat Al An'am ayat 145 dikatakan bahwa dilarang untuk meminum darah yang mengalir. Penafsiran ayat ini sebenarnya lebih dalam dari sekadar, misalnya, menggores tubuh seseorang dengan benda tajam kemudian meminum darahnya, tetapi juga lebih dari itu. Ayat ini juga berarti bahwa ketika seseorang atau suatu kaum yang berkuasa kemudian menghisap keringat budak-budak yang ia miliki, memakan hasil pekerjaan orang lain, tidak memberikan bagian keuntungan yang seharusnya menjadi bagian orang lain (oleh Marx disebut sebagai "meerwaarde" - nilai lebih), maka itu sama dengan meminum darah yang mengalir. Konsep Islam sebagai teologi pembebasan sangat melarang hal ini. Ini dapat dijadikan justifikasi bahwa Islam - sosialisme Islam, memerangi kapitalisme hingga ke akar-akarnya. Meerwaarde dalam bahasa Islam adalah sama dengan riba.

Kaum Proletariat Yang Menjadi Pemimpin
Dalam Al Qur'an Surat Al Qashas ayat 5-6 ditegaskan bahwa Islam meninggikan posisi kaum mustadhafin dan mendukung perjuangan mereka untuk mengalahkan kaum mustakbirin serta menjadikan kaum mereka sebagai pemimpin yang tidak korup. Ini menjelaskan betapa Islam tidak netral dalam bersikap melihat konflik antara kaum mustadhafin dan kaum mustakbirin. Ini sangat mencerminkan sosialisme itu sendiri, terutama konsep yang ditawarkan oleh Karl Kautsky, 'the expropriation of the expropriator'. Kaum mustadhafin adalah kaum pengambil alih yang melakukan cara-cara yang dapat menutup keran kapitalisme serta korupsi kaum mustakbirin.
Sayangnya, Islam kemudian malah tumbuh menjadi sistem yang memapankan kekuasaan mustakbirin; Islam menjadi sekadar ritual yang keberadaannya justru menjustifikasi keputusan-keputusan yang memundurkan kaum mustadhafin. Misalnya saja kekuasaan syah di Iran sebelum berlangsungnya revolusi. Para ulama hanya dijadikan tempat meminta justifikasi terhadap kebijakan-kebijakan yang sebenarnya bersifat tiran. Revolusi Iran sendiri sebenarnya juga dimotori oleh kebangkitan konsep sosialisme Islam. Aspirasi menjadikan kaum mustadhafin menjadi pemimpin adalah karena ada kecenderungan bahwa mereka yang tertindas justru adalah yang paling demokratis dan paling egaliter, suatu konsep yang juga populer di kalangan kaum sosialis / komunis.



Masyarakat Tanpa Kelas
Tauhid adalah pegangan semua ajaran yang bersumber dari Islam. Tauhid tidak selalu harus dilihat sebagai cara melihat Tuhan yang satu, tetapi juga aspek yang lain. Tauhid dalam perspektif "teologi kaum tertindas" lebih ditekankan kepada keesaan ummat manusia. Dengan kata lain, doktrin konsep tauhid menolak segenap bentuk diskriminasi dalam bentuk warna kulit, kasta ataupun kelas. Konsep masyarakat tauhidi adalah suatu konsep penciptaan masyarakat tanpa kelas yang diinginkan pula oleh kaum sosialis / komunis. Dalam masyarakat tauhidi ini, masyarakat benar-benar satu, tidak dibedakan lagi karena kedudukan sosial, jenis kelamin, warna kulit, dll. Dan itu adalah sama dengan cita-cita masyarakat komunis.

Islam Sebagai "Teologi Pembebasan"
Teologi pembebasan pada awalnya muncul di kawasan Eropa pada abad ke-20 dan menjadi konsep penting dalam studi agama; melihat peran agama untuk membebaskan manusia dari ancaman globalisasi dan menghindarkan manusia dari berbagai macam dosa sosial, serta menawarkan sudut pandang baru untuk memperbaiki sistem sosial manusia yang telah dirusak oleh berbagai sistem dan ideologi manusia itu sendiri.
Ada beberapa doktrin yang dibawa oleh teologi pembebasan secara umum, yaitu: 1) gugatan moral dan sosial yang amat keras terhadap ketergantungan kepada kapitalisme sebagai suatu sistem yang tidak adil dan menindas, 2) penggunaan alat analisis Marxisme dalam rangka memahami sebab-musabab kemiskinan, 3 ) pilihan khusus pada kaum miskin dan kesetiakawanan terhadap perjuangan mereka menuntut kebebasan, 4) suatu pembacaan baru terhadap teks keagamaan, 5) perlawanan menentang pemberhalaan sebagai musuh utama agama 6) kecaman terhadap teologi tradisional yang bermuka ganda sebagai hasil dari filsafat Yunani Platonis.
Dalam melihat Islam sebagai teologi pembebasan, karya dan pemikiran seorang Ali Syari'ati dapat menjelaskan secara gamblang konsep 'membebaskan' dalam Islam. Ali Syari'ati termasuk ke dalam mereka yang menjadi saksi sejarah betapa rezim Syah di Iran menciptakan Islam yang terbatas pada ritual yang sama sekali tidak menyentuh aspek-aspek politik dan sosial kemasyarakatan; tanpa petunjuk untuk melawan kebodohan atau strategi menciptakan keadilan. Bagi Syari'ati, Islam gaya rezim Syah di Iran adalah Islam rigid dan bergaya penguasa, sementara Islam progresif-revolusioner adalah Islam yang bergaya " Abu Dzar "; kreasi simbolis Syari'ati sebagai seorang muslim yang tegar, revolusioner yang mengkhotbahkan persamaan, persaudaraan, keadilan, dan pembebasan dalam buku karyanya, Abu Dzar-e Ghifari.
Gagasan Syari'ati tentang Islam revolusioner atau Islam pembebasan sejalan dengan gagasan tentang teologi pembebasan yang banyak diusung oleh tokoh-tokoh revolusioner baik di Amerika Latin maupun Asia. Ide dasar pemikiran antara Syari'ati dengan para pengusung teologi pembebasan hampir sama, yakni ingin mendobrak kemapanan lembaga resmi keagamaan yang posisinya selalu berada pada pihak kekuasaan, dan berpaling dari kenyataan umatnya yang selalu ditindas oleh kekuasaan itu. Agama yang seperti inilah yang membuat Marx menyatakan bahwa ia adalah candu yang menghibur kaum tertindas yang sedang 'bersusah hati' dan alfa melihat ketidakadilan di sekitar mereka.
Lihatlah bukti ketika Muhammad mengadakan perlawan terhadap kaum kapitalis di Mekah. Kaum kapitalis sebenarnya memiliki ketakutan yang lebih mendasar daripada sekadar kehilangan berhala-berhala mereka. Ketakutan itu bersumber dari ketidaknyamanan menerima doktrin egalitarian Muhammad yang akan memberikan konsekuensi sosial ekonomi yang besar bagi mereka. Karena itu , tidak seperti yang orang banyak ketahui, sebenarnya persoalan Muhammad dengan kaum kapitalis Mekah bukan hanya sekadar persoalan "agama baru".



Syari'ati dalam bukunya Eslamshenasi (Islamology) menyatakan bahwa kesyirikan tidak saja berarti menolak Tuhan. Jika pada zaman Jahiliyyah di Mekah, tuhan-tuhan palsu itu dimanifestasikan dalam wujud berhala-berhala, maka pada zaman modern ini, tuhan-tuhan palsu terwujud dalam banyak aspek dan bidang yang lebih luas dan komplek dari sekadar berhala-berhala sesembahan yang dianggap syirik atau menyimpang. Perwujudan modern kesyirikan dapat dijumpai pada kasus di mana orang melakukan tindakan yang merupakan monopoli Tuhan, dengan begitu berarti menempatkan dirinya sebagai pengganti Tuhan.

Penutup
Sosialisme selalu dijadikan bahan perdebatan karena ia sendiri adalah konsep yang 'multi-interpreted'. Ia lebih sering dikaitkan dengan kepercayaan seseorang atau kelompok tentang bagaimana seharusnya sosialisme itu dan apa yang harusnya dilakukan untuk menuju sosialisme. Intinya, 'socialism is more a question of belief than a question of debate '. Tetapi, yang menjadikan pemikiran sosialisme Islam berbeda adalah sumber-sumber yang memperlihatkan kesamaan Islam dengan nilai-nilai yang dipegang erat oleh kaum sosialis / komunis adalah sumber-sumber yang dipercaya tidak dibuat oleh manusia melainkan sebuah wahyu yang membuatnya terlepas dari prasangka atau rancangan kaum tertentu untuk mengontrol kaum lain. Terlepas dari benar salahnya hal ini, pemikiran Marx adalah sebuah metode, bukan dogma. Pemikiran Marx adalah sesuatu yang masih dapat dipatahkan, layaknya sebuah teori yang akan selalu mengandung ketidaksempurnaan di dalamnya.
Terlepas juga dari dapat diterima atau tidaknya sosialisme Islam, paling tidak Tan Malaka, Ali Syari'ati atau Haji Agus Salim telah cukup berhasil menjadikan agama sebagai poppy seed; menggunakan agama secara konkret sebagai 'pemberi rasa' dalam aspek nyata kehidupan; bukan candu yang mematikan potensi revolusioner dalam diri mereka. Kritik Bukharin dapat djabarkan dengan definisi baru bahwa seharusnya eksistensi beragama tidak bisa diukur sejauh mana ia berhubungan dengan Sang Khalik, tetapi sejauh mana ia telah mentransformasikan nilai-nilai keilahian pada kehidupan sosial.
Kaum muslim secara umum selayaknya selalu mempersiapkan diri untuk membangun pendekatan dalam menerima dan menyebarkan Islam yang dinamis yang dapat secara berkelanjutan direvisi, yang dapat menyesuaikan diri dengan isu dan fenomena yang terjadi di dunia dan lingkungannya serta menjadi cukup imajinatif dalam menangkap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di dalam model formal yang terkadang sulit ditebak-sebagaimana dapat kita sebut sebagai "sustainable curiousity".

Referensi:
• Bukharin, Nikolai I., Programme of the World Revolution (Chapter. XVII Spiritual Liberation - the Next Step to Economic Liberation ), 1918, Marxist Work Archive (online), November 3, 2008, p. 130.
http://www2.cddc.vt.edu/marxists/archive/bukharin/works/1918/worldrev/ch17.html
• Bukharin, Nikolai I.; Phreobazensky, Edward, The ABC of Communism (Chapter XI: Communism and Religion, 89. Why Religion and Communism are Incompatible), 1920, Marxist Work Archive (online), November 3, 2008, .
• Haque, Ziaul. Wahyu dan Revolusi. 2001. LkiS. Yogyakarta.
• Wahono, N. Teologi Pembebasan: Sejarah, Metode, Praksis, dan Isinya. 2000. LkiS. Yogyakarta.