Showing posts with label The Insights That Burst. Show all posts
Showing posts with label The Insights That Burst. Show all posts

Monday, January 30, 2012

Hak Revolusioner: Buang Jenuh di Kuburan

Tulisan ini merupakan reinterpretasi kembali dari karya Emha Ainun Najib di dalam bukunya "Slilit Sang Kyai" (Penerbit Pustaka Utama Grafiti, 1988).
________________________________________________________________________

Ada beberapa orang yang saya kenal yang sejatinya mencerminkan jargon bahwa “untuk tetap waras, kegilaan adalah jawabannya”. Gila di sini tak selalu soal berjalan luntang-lantung di perempatan ibu kota, rambut awut-awutan atau apapun yang Anda pikir menjadi atribut dan penampakan khas dari seorang yang sedang sakit mental. Gila juga berarti mereka yang melawan arus besar, melawan persepsi dan keyakinan umum yang dipercaya oleh kebanyakan orang dan kemudian memilih untuk keluar dari area nyaman-aman-tenteram demi tercapainya identitas diri yang tidak ditunggangi oleh komando siapapun. Gila yang lain juga adalah tentang berupaya keras untuk membuat orang melihat kenyataan yang sebenarnya, walaupun orang yang dituju seringkali tak bisa memahami, dan ujung-ujungnya akan ditanggapi selorohan sengit, “Kamu gila ya?”.

Jenis yang terakhir ini yang ingin saya ceritakan. Saya tahu seseorang, yang kalau katanya orang Jawa ‘mbeling’-nya setengah mati. Tapi sebenarnya, beliau cuma seorang lelaki yang jujur dan mampu melihat apa yang kebanyakan orang tidak bisa lihat. Bukan, beliau bukan cenayang. Beliau tidak punya kemampuan indera keenam, tapi kalau kepekaan luar bisa dimasukkan ke dalam definisi indera keenam, maka beliau memilikinya. Tulisan saya kali ini merupakan alih bahasa (ke bahasa saya tentunya) dari tulisan milik beliau. Tapi tenang saja, saya bukan seorang plagiator. Karena kalau bisa, saya ingin jadi seorang ‘mbeling yang mandiri’ yang berguru pada ‘mbeling’ yang lain, tetapi sebagai hasil berguru, menghasilkan produk ‘mbeling’ saya sendiri.

Begini ceritanya.

Suatu hari, sekelompok pemuda yang mengklaim diri sebagai pasukan penjaga kemurnian agama menyambangi rumah seorang cendekiawan yang juga sering dilabeli sebagai alim ulama oleh orang lain yang merasa beliau punya cukup ilmu untuk masuk surga. Sekelompok pemuda ini mengutarakan keresahan mereka karena katanya semakin banyak orang di sekeliling mereka yang gemar berziarah ke kuburan, mencari wangsit berupa nomor buntut atau penerawangan peta harta karun. Mereka begitu marah. “Ini melawan ajaran agama! Kafir! Kenapa bapak diam saja?!”

Sang cendekia terkesiap, bukan karena kata-kata mereka. Tapi lebih karena aura arogan yang melingkupi wajah-wajah mereka, dan menghadirkan kesan tak bersahabat, walau katanya mereka semua itu keturunan pasangan manusia yang sama. Ia juga terkesiap karena sekelompok pemuda itu datang untuk meminta pertanggungjawaban darinya, seakan-akan apa yang ia pelajari ternyata tak mampu menahan orang meminta kepada tulang-belulang di tanah pekuburan dekat kediamannya.

“Apa Bapak tak ingin memberi komentar atau melakukan sesuatu untuk mencegah bentuk-bentuk kesyirikan, bidah, pelecehan agama dan kegilaan ini?! Saya sebagai seorang pemuda Muslim, yang dibesarkan dalam kaedah-kaedah Muslim merasa ini sebagai sesuatu yang tidak lagi bisa ditolerir! Kita harus memberantasnya, Pak! Saya siap berjihad!
Lalu sang Bapak berujar, “Begini lho Mas, saya ndak bilang kalau saya menyepelekan hal-hal yang masnya sebutkan tadi. Tapi maaf, ini ndak pada tempatnya. Panjenengan pernah makan es dawet dicampur sambal padang ijo? Ndak klop tho? Iya tho?”

Sang pemuda mengernyit. Ingin tertawa tapi gengsi. Tetapi yang pasti, belum paham. Makanya ia menyeloroh.

“Ini bukan perkara yang layaknya dibikin guyon Pak. Kanjeng Nabi Muhammad bisa guling-guling di kuburnya!”

“Lho, darimana tho panjenengan tahu Kanjeng Nabi guling-guling? Lha wong kuburnya cuma cukup buat berbaring horizontal, sedikit miring dengan tangan tersedekap. Tapi yo wis, begini lho Mas.. Apa itu syirik? Masnya wis paham tho? Mari melihat dari sisi lain. Orang kalau masuk kuburan itu tujuannya macam-macam, Mas. Lha kalo jari mas cuma ada sepuluh ndak akan cukup untuk menghitung. Ada yang mau aksi ala Lara Croft, jadi tomb raider, semata karena lapangan bermain biasanya sudah diubah jadi mal. Ada yang sembunyi dari tagihan lintah darat. Ada yang sembunyi dari istrinya yang terus merongrong untuk beli kulkas dua pintu. Ada yang sembunyi dari suaminya karena terus-terusan membujuk untuk diberi izin nikah kedua kalinya demi ‘menghindari zina’. Lha saya saja suka masuk kuburan kalau merasa jenuh. Jenuh diundang oleh komunitas ini, ormas itu, organisasi ini, kelompok pemuda itu. Saya jenuh dengan pertanyaan-pertanyaan khas abad ke-21 macam “memandang perempuan itu zina apa tidak?”, “film kalo memajukan tema pluralisme itu haram apa tidak?”, “caranya selamat dunia akhirat itu bagaimana?” atau kadang-kadang “Hugo Chavez itu kiri liberal, kiri tengah atau kiri-kanan?”

Sang bapak terus melaju.

“Tuhan mengizinkan kita untuk merasa jenuh, karena justru dari titik jenuh itu pembaharuan dimulai. Peranan kita sebagai manusia lebih sering terwujud ketika kita merasa jenuh akan sesuatu dan ingin menghasilkan hal baru. Jadi yang mau saya tanya: Apakah buang jenuh di kuburan itu syirik?”

“Lho ini kok semakin menjauh dari pertanyaan saya Pak?! Bukan itu maksud saya! Masak bapak ndak paham?”

“Saya hanya ingin bilang bahwa seseorang bisa dibilang syirik kalau sudah melibatkan hati dan sikap yang muncul dari jiwa yang berubah. Bukan semata karena kuburannya. Jangan mudah menuduh orang atau sembarang menyimpulkan gejala sosial kompleks seperti ini. Kalau ini Facebook, pasti saya sudah meng”like” Anda karena semangat Anda yang berkobar untuk memberantas aksi syirik. Tapi saya akan meng”unlike” Anda, karena Anda sudah sombong sama orang papa.”

“Lho Pak….?”

“Anda sebagai mahasiswa pasti sering membuat proposal tho? Untuk pengajuan dana, membuat pentas seni, menjalankan riset, dan sebagainya. Coba sekali-kali Anda mengajukan riset untuk meneliti siapa saja yang sebenarnya langganan pergi ke kuburan. Tapi jangan masukkan pejabat yang langganan ke Gunung Kawi. Saya berani jamin bahwa sebagian besar dari mereka adalah orang-orang dalam posisi mepet. Kalo Mas mungkin mepet juga, tapi setidaknya masih ada kiriman uang di rekening dari orang tua. Ditambah lagi, Anda termasuk di dalam sekelompok anak-anak bangsa yang masih diberi kesempatan dan peluang ekonomi untuk sekolah hingga perguruan tinggi, sehingga bisa mengelola hidup Anda secara rasional. InsyaAllah, kemungkinan Anda untuk menjadi pelanggan kuburan itu sangat kecil. Kalau menghadapi persoalan macam ketidakadilan ekonomi, Anda akan serta merta merancang diskusi publik, bukan berkunjung ke makam Kyai Bonokeling atau Sunan Begenjil. Kalaupun Anda tidak ingin menjadi bagian dari sistem kemapanan, Anda tetap tidak harus berurusan dengan kuburan. Anda bisa buat LSM, walau kadang Anda juga sering lupa tujuan Anda itu untuk “mereka” atau untuk “kita”. Pilihan non-kuburan lain yang paling mudah dilakukan mungkin adalah “menyantuni pengemis”, walau kadang Anda juga sering lupa bahwa Anda hanya sedang mengobati hati yang luka karena rasa kasihan. Anda punya harapan menang telak dari mereka-mereka yang putus sekolah, ndak sekolah atau DO.”

“Kenapa kok jadi menghakimi saya begini Pak?”

“Biar saya lanjutkan dulu. Yang mau saya katakan adalah: Hal-hal seperti ini ndak bisa dilakukan oleh mereka-mereka itu. Mereka ndak tahu caranya bikin proposal. Mereka lebih senang menyepi ke kuburan, minta harapan ke leluhur, hantu, dedemit, jurig atau apapun itu, karena satpol jauh lebih menyeramkan untuk mereka hadapi. Lebih baik kesurupan arwah Mbah Surip daripada digusur tiba-tiba sambil diseret-seret sepanjang jalan. Satu-satunya kesanggupan revolusioner yang masih tersisa bagi orang kecil yang melarat adalah menyimpun harapan di kuburan. Free of charge! Kok bangganya Anda merasa menjadi satpam iman, bahkan kadang membuat status Facebook yang gegap gemuruh gempita tentang jihad bahkan berani berkorban nyawa. Tapi sayangnya, Anda justru menghunuskan pedang Anda, menodongkan senjata Anda atau mengencangkan ketapel Anda ke tubuh-tubuh lemah-lunglai yang sudah berada di bawah ancaman badai api yang cuma sanggup menyepi ke kuburan. Anda sibuk mengawasi remaja putra dan putri yang berboncengan, menelpon teman sejawat dan memastikan mereka sudah shalat subuh, menggerebek kos yang dianggap mencurigakan, dan lain-lain. Apa ya tho Anda pernah mempertanyakan bagaimana sejarah sosial politik dari tikar atau sajadah kain beludru yang Anda pakai untuk shalat setiap hari? Anda ini tipe manusia yang baru bis abilang mencuri itu dosa, tapi belum bisa menelaah asal-muasal aksi pencurian itu. Ujung-ujungnya, Anda bikin kerajaan puritan sendiri dengan Anda sebagai raja sekaligus algojonya, dan menindas yang papa dengan senjata syariat. Kalau Anda mau baca lebih banyak, Kanjeng Nabi yang Anda sebut sedang berguling-guling itu memberikan definisi kafir dan syirik yang berbeda. Beliau mengajak orang untuk tidak menuhankan hal-hal yang tidak pantas dituhankan: pembodohan, pembudakan, ketidakpedulian, materi, ketidakadilan, kebutaan, ketidakseimbangan, dan lain-lain!”

“Lho Pak, ini semakin jauh dari tujuan saya…..”

“Karena itu jangan membangunkan singa yang sedang tidur! Terutama ketika Anda ndak tahu bagaimana cara menidurkannya kembali! Sudah saya mau ke kuburan dulu!”

Sofia Ariani
Yogyakarta, 22 April 2011

Saturday, January 28, 2012

Saya Memang Kampungan Bag. 1: Kondangan di Kampung



Ini tulisan yang tidak terlalu baru dan tidak terlalu lama. Tulisan ini saya sadur dan olah kembali dari tulisan Seno Gumira Ajidarma, "Kampungan yang Mesra", di dalam bukunya, "Affair: Obrolan Tentang Jakarta" (Penerbit Buku Baik, Cetakan I, 2004). Tidak, ini bukan plagiarisme. Saya hanya betul-betul terpesona dengan cara Bung Seno melukiskan riuh-rendah kampung di dalam tulisannya. Tidak berlebihan kalau saya bilang, tulisan-tulisan Seno Gumira Ajidarma membuat pembacanya lebih 'rendah hati'.

Terima kasih, Seno Gumira Ajidarma.
________________________________________________________________________

Balikpapan, Kalimantan Timur.

Kota kelahiran saya ini sudah saya tinggalkan selama lima tahun dan hanya diselingi kepulangan-kepulangan singkat setiap akhir semester di kampus saya. Saya tinggalkan kota ini untuk mentransfer pertanyaan-pertanyaan soal banyak hal ke tempat-tempat lain. Dari Yogyakarta, Surabaya, Sumedang, Jakarta hingga Singapura dan Jepang.

Tapi kali ini saya betul-betul pulang, dan sudah sebulan saya berada di sini, membiasakan diri lagi dengan Balikpapan sekaligus di saat yang bersamaan diterpa oleh banyak sekali perubahan. Dari yang lama ke baru, dari yang blangsak ke yang berbudi, dari yang rendah ke yang mulia, dari yang lengang menjadi sumpek, dari yang bodoh menjadi cerdas, dari yang membosankan menjadi menarik, dan lain-lain.

Sewaktu keluar dari bandara, saya jadi ratu drama di kendaraan yang melaju menuju rumah. Bukan karena pesawat kepulangan saya ditunda hingga tujuh jam (Tuhan bersama orang-orang yang sabar, ingatlah itu Batavia Air #eh), tapi saya betul-betul menangis karena ternyata saya rindu pada semua hal yang ikut menjadi bagian dari pertumbuhan saya – dari anak balita yang kata mama punya naluri alamiah untuk selalu ingin tahu tentang apa saja ke anak usia tanggung yang kalau pakai seragam sekolah SD kancingnya selalu dikaitkan sampai atas, menahan jalan pernapasan saya. Dari remaja yang ingin coba-coba semua hal - ikut rohis dan pakai jilbab panjang ala Teh Ninih hingga bergabung di klub debat Bahasa Inggris SMA I Balikpapan yang anggotanya terkenal ‘beringas’- sampai menjadi anak usia kuliahan yang ngebet ingin meninggalkan Balikpapan dan melihat dunia luar.

Saya trenyuh. Saya ikut lebur bersama malam berhujan di Balikpapan hari itu. Saya betul-betul rindu itu semua. Hati saya ikut berdendang sambil mengikuti rinai rintik hujan di kaca mobil. Saya tersedu-sedu.... Ya, mungkin salah satu kelas favorit saya di kampus adalah Teori-Teori Sosialisme yang salah satu kegiatannya adalah mempelajari kemarahan Karl Marx akan kapitalisme hingga akhir hayatnya, tapi sesungguhnya saya ini ditempa oleh pejuang-pejuang dangdut melayu paling kesohor yang pernah dimiliki oleh negara ini yang tergabung dalam berbagai grup organ tunggal.

Betul, saya memang ‘kampungan’.

Ngomong-ngomong, saya ini berasal dari keluarga mungil. Anggotanya cuma empat: papa, mama, kakak dan saya sendiri. Kalau enam hamster, limabelas ikan hias, satu ekor penyu dan dua anak ayam warna kuning cerah bisa dihitung sebagai keluarga, ya berarti saya berasal dari keluarga besar. Suka-suka panjenengan-lah. Rumah kami juga mungil. Tak bersekat, dan dibanjiri tidak oleh berbagai aksesoris tipikal ibu-ibu bersasak tinggi di ibukota macam perlengkapan makan dari perak, koleksi pajangan kristal, lukisan reproduksi Basuki Abdullah atau foto besar sekeluarga dengan latar pemandangan menara Eiffel. Tanpa bermaksud pamer atau ingin menunjukkan pada orang bahwa kami keluarga intelek, rumah saya itu disesaki oleh beribu-ribu koleksi buku, film dan musik, sejak jaman ayah saya masih doyan bercelana cutbray dan berkemeja polkadot ketat hingga sekarang aktif sebagai pengurus masjid dan pakai celana di atas mata kaki. Eksistensi kami sekeluarga di kalangan tetangga dan handai taulan mungkin hanya dibuktikan dengan banyaknya pajangan cuma-cuma yang merupakan kenang-kenangan dari berbagai acara kondangan di kampung saya; nikahan, sunatan, khataman Al-Qur’an, nujuh bulanan hingga kenaikan pangkat. Dari potongan kuku, gelas kaca, kipas batik hingga kotak pensil. Kami memang keluarga eksis. Selalu ada nama kami di surat undangan orang-orang itu.

Ngomong-ngomong lagi, asal-usul saya itu memang adalah orang kampung. Saya tumbuh di sebuah daerah bernama kampung Klandasan, Balikpapan. Walaupun setelah itu keluarga kami pindah ke sebuah perumahan pinggiran kota yang orang-orangnya lebih sering menutup pintu rumahnya.Anyway, Jack Kerouac, penulis dan pionir Beat Generation yang nyentrik itu pernah bilang bahwa jalanan adalah tempat kita menemukan ‘wonders of the world’. Tapi di Indonesia, tempat itu buat saya justru lebih diwakili oleh kampung-kampung di tengah-tengah kota besar atau semi-besar.

Kampung, kampungan, orang kampungan. Ah, apa artinya itu semua. Saya juga tidak memiliki taraf kepahaman yang sudah mencapai moksa akan hal ini. Orang-orang elit, modern dan metropolis fasih mengucapkan kata ‘kampungan’, tapi itu tidak pernah mengacu pada dirinya sendiri. Pasti ke orang lain. Ya contohnya saya ini, orang kampungan. Sebaliknya, orang kampungan macam saya ini walaupun sudah kuliah dan punya gelar sarjana, tetap tidak fasih melafalkan kata ‘berkelas dan elegan’ seperti orang-orang modern itu. Yah, karena saya terbiasa tinggal di kampung, dimana saya lebih akrab dengan adegan demikian:

Sebuah acara pernikahan dengan latar belakang terpal yang dipasang melintang ke sana kemari tanpa gradasi warna yang teratur dan bisa membuat desainer interior sakit mata, dari biru ke jingga hingga merah terang; tenda untuk melindungi tamu undangan dari panas dan hujan yang dipasang dengan mengubah ruang publik menjadi ruang privat alias jalanan kampung; warna-warna terang menghiasi dekorasi singgasana pengantin dan dihias dengan buah-buahan tropis macam jeruk bali, pepaya, salak hingga pisang kepok; bapak-bapak berbaju batik yang berkeringat gombyos menikmati hidangan soto dan di kumisnya berlelehan kuah soto; kursi-kursi plastik yang di bawahnya teronggok tumpukan piring-piring bekas dipakai oleh tamu undangan –yang kalau tertendang niscaya tetap tak akan membuat orang kaget karena suaranya kalah nyaring dibandingkan bunyi penyanyi organ tunggal yang main sepanjang hari, wayang semalam suntuk atau layar tancap 24 jam non-stop berisi film-film India, serial Korea atau film horor soft porn Indonesia paling gres.

Masih mau yang lain?

Muda-mudi berlomba-lomba trendi, dengan pakaian dan aksesori terbaik. Ya mungkin bukan denimLevi’s tapi Lepis, bukan tas Gucci tapi Gussi, bukan dompet Prada tapi Plada, bukan jam Bvlgari tapiBerdikari – yang penting tetap mutakhir, walaupun mungkin jangan sampai dipelototin, karena palsunya akan kelihatan jelas. Pemudi berusaha berjalan dengan sepatu hak tinggi dan pemuda rambutnya bisa buat main perosotan karena dijajah oleh jel rambut bermerek Hasby, bukan Gatsby. Saya sendiri adalah salah satu dari generasi kampungan itu, yang menikmati dan mengamati gerak-gerik orang-orang ini. Walaupun layar tancap memutar film non-stop, biasanya kalau sudah adegan goyang atau baku hantam, barulah para pemuda menaruh perhatian, selebihnya mereka bercengkrama dengan pemudi. Saya suka melihat ibu-ibu yang akan segera berkelompok dan menginisiasi perbincangan mereka sendiri- paling sering berbisik-bisik tentang suami-suaminya. Biasanya setiap pembicaraan akan ditimpali dengan tawa berderai dan hujan reaksi "Husyhhhh, kok nggosipin suami!” Atau kadang mereka mengeluhkan harga-harga yang sepertinya tidak pernah turun atau perkembangan anak-anak mereka. Jangan jadi egois dengan menyebut ibu kita ‘rempong’. Ibu yang kita cintai dan selalu ada untuk kita itu juga butuh jeda dari kita-kita ini: anak-anak penuh tuntutan.

Saya? Saya biasaya duduk di belakang sambil makan sepiring berdua dengan ibu saya sambil memegangi gelas air minum dan sepiring kecil buah-buahan potong, karena tak ada meja untuk meletakkannya. Kami akan mandi keringat, dan biasanya setelah kondangan selesai akan sibuk mencari tisu makan yang sebenarnya tak layak untuk dialihfungsikan mejadi tisu fasial. Tetapi demi menghapus keringat yang jatuh tak bersahabat di hidung dan dahi kami, kami cukup legowo hanya menggosokkan tisu makan kasar ke wajah kami.

Apakah kami keluarga kampungan karena kami menikmati ribetnya kondangan macam itu?

Ya, mungkin. Tapi saya bangga jadi kampungan. Karena yang kampungan itu biasanya hatinya seluas samudera. Kalau keberisikan kondangan sampai memasuki jendela-jendela rumah, orang-orang ‘kampung’ ini dengan sukarela cuma mesem-mesem saja dan memaklumi keriuhan tersebut. Kondangan kampung itu ramai luar biasa, dan sebenarnya merupakan kegiatan yang cukup mulia: orang yang punya hajatan begitu bersyukur akan berkah yang ia terima, sehingga kegembiraan itu perlu dibagi ke sebanyak mungkin orang. Bukan hanya tamu undangan, bahkan mereka yang paling tak relevan sekalipun. Pedagang makanan akan ikut-ikutan mangkal di area kondangan, anak-anak kecil yang kakinya kotor habis bermain akan berusaha menyusup ke dalam dan menilap sepotong-dua potong ayam goreng, peminta-minta akan berjejer, bahkan kadang salesman keliling pun tak ragu menyumbangkan wajahnya, siapa tahu untung berpihak pada mereka hari itu. Jalan kampung yang milik publik itu dipinjamkan dengan sukarela oleh penduduk kampung untuk menempatkan jejeran kursi, agar jumlah tamu kondangan yang merangsek masuk tidak akan meruntuhkan rumah yang punya hajatan. Bukankah ini yang lebih dapat didefinisikan sebagai sebuah upacara sosial-religius yang tidak pandang bulu terhadap siapapun yang datang alih-alih standing party di hotel berbintang yang hanya diadakan untuk ‘kalangan terbatas’?

Layaknya kata filsuf kenamaan Prancis, Jean-Paul Sartre, bahwa orang lain adalah neraka, maka pastilah orang-orang kampungan macam saya ini adalah neraka buat kaum elit-modern-metropolis yang selalu lancar melafalkan kata privasi. Orang-orang kampung macam saya ini gaduh, tidak elegan dan tidak berkelas, tidak bisa melihat sikon dan lain sebagainya. Tapi buat saya, kondangan kampung justru melindungi saya dari orang-orang hasil cetakan sekolah kepribadian, dari kesepian di kota besar yang terlihat riuh, dari kepalsuan.

Kenapa? Karena yang kampungan itu seringkali lebih mesra, intim, erat, akrab dan selalu dihiasi oleh keramaian yang menghindarkan saya dari keterasingan.

Balikpapan, 25 September 2011

Friday, January 27, 2012

Radiohead Smeared My Brain Out! Hands-DOWN!




I love one of the comments under this video on You Tube, "When three guitarists make love, weird fishes are born." Faboulashhhh!

Saturday, January 15, 2011

Kiai, Pendeta, Pastur dan Supir Bis serta Agama yang "Mungkin"


Beberapa waktu lalu, ketika sekelompok cendekiawan, seniman serta tokoh masyarakat dan agama memperingati setahun meninggalnya Gus Dur, Frans Magnis Suseno memberikan testimoninya - tepat setelah Mohamad Sobary menyampaikan monolog dengan diiringi dua orang seniman teater yang ‘memanggungkan’ kekhawatiran dan pertanyaan soal apakah Indonesia akan menemukan seseorang seperti Gus Dur lagi atau tidak. Di akhir testimoni, Frans menyampaikan sebuah lelucon yang pernah dilontarkan Gus Dur, walaupun menurutnya sudah banyak orang yang tahu tentang lelucon tersebut. Ini tentang seorang kiai, pastur, pendeta dan seorang “supir bis”. Dan, mari kita tak usah menerka-nerka sang supir bis ini terafiliasi dengan agama atau keyakinan apa.

Suatu waktu, setelah sebuah bencana membuat keempatnya meninggal di tempat yang berlainan di muka bumi, mereka saling bertemu dan memutuskan untuk bersama-sama menunggu keputusan Tuhan – keputusan tentang apakah mereka akan masuk surga, neraka, atau ‘mengawang-awang’ di tengah-tengahnya. Sambil bergerombol, sang kiai, pendeta dan pastur bertanya-tanya sendiri mengapa mereka harus mengantri sedemikian lama untuk menanti putusan Tuhan. Mereka mulai menimbang-nimbang apa yang sudah dan belum mereka lakukan sekaligus berspekulasi tentang berbagai kekurangan dalam melaksanakan ‘ibadah’ atau ‘amal’. Apakah Ekaristi-ku tak cukup khusyuk? Apakah aku tak cukup banyak berziarah ke makam-makam para Wali Songo? Apakah aku tak didoakan oleh para jemaatku? Atau aku tak cukup sempurna dalam melantunkan Doa Bapa Kami? Bukankah setiap orang selalu berebut untuk mencium tanganku? Dan bukankah sudah tak terhitung lagi berapa banyak orang yang melakukan pengakuan dosa di dalam bilik gerejaku?

Dan, gerombolan ‘alim-ulama’ ini semakin menegang ketika melihat seorang supir bus yang baru datang, tanpa tedeng aling-aling dipersilakan dengan khidmat untuk segera masuk ke surga. Mereka pun protes, dan bertanya kepada Tuhan. Apa jawaban Tuhan? “Tak ada yang berdoa di rumah ibadah kalian. Tapi lihatlah sang supir, ketika ia mulai mengendarai bisnya, banyak penumpang mulai berdoa – dengan sesungguh-sungguhnya.” Semua orang tertawa dan saya tersenyum simpul. Mungkin karena fakta bahwa sebagai pengguna dan penggemar bis Jogja yang loyal, saya tahu bagaimana rasanya adrenalin mengalir kencang di dalam darah ketika bis mulai melaju. Menegangkan, mengasyikkan, mengkhawatirkan, menantang dan justru memberi waktu untuk berpikir secara rasional. Harus saya beri tahu bahwa hampir 75% ide untuk tulisan, makalah, bahkan hingga skripsi yang sedang saya kerjakan sekarang ‘berjatuhan’ dari langit-langit bis Jogja yang hitam kusam terbungkus kerak-kerak polusi yang keluar dari knalpotnya sendiri.

 Tetapi, tulisan ini bukan tentang sudah berapa banyak bis yang saya tumpangi di Jogja atau berapa banyak supir bis yang saya kencani - yang mana tidak ada sama sekali. Bukan juga saya sedang menyarankan Anda untuk segera serius menekuni jejak karir sebagai supir bis, tetapi soal kenapa Gus Dur menggunakan supir bis ‘ugal-ugalan’ sebagai prototipe penghuni surga utama di dalam leluconnya – atau siapapun yang pertama kali membuat lelucon tersebut. Kalau boleh saya melanjutkan kata-kata Tuhan, maka mungkin akan menjadi seperti ini: “Jemaat kalian semakin sedikit, dan kalaupun banyak, mereka lebih sering datang untuk sebuah rutinitas yang dihubung-hubungkan dengan tradisi, norma, kebiasaan, bahkan prestise dan citra di depan orang lain. Ajaran-Ku hanya baju kalian, tapi tidak menelusup ke jantungmu, paru-parumu atau ikut beredar di dalam pembuluh darah bersama sari makanan atau udara bersih.”

Apakah memang demikian? Aku rasa ya. Kita terlalu mengada-adakan yang tidak ada. Ketika majelis taklim konsumsinya harus ini, ketika berziarah, ‘sedekah’nya harus ini dan itu, sepulang naik haji hukumnya fardhu ‘ain untuk membawa kacang-kacangan Arab, seperangkat sisha, atau dua galon air zam-zam, atau ketika seseorang mencuri maka serta-merta tangannya harus dipotong. Dan soal potong-memotong ini, yang sering tidak diketahui orang, bahkan masih ada tahapan-tahapan panjang yang harus dilalui seorang cendekiawan untuk memahami konteks dari aktifitas mencuri itu. Apa yang dicuri, dimana mencuri, dari siapa mencuri, berapa kali mencuri dan kenapa mencuri. Selalu ada latar belakang dari setiap keputusan manusia, dan tak benar rasanya jika kita membiarkan diri mencari keadilan dari orang-orang yang tidak, belum atau tidak mau paham tentang keadaan sang pencuri. Kalau Anda mersa bingung, bayangkan saja ungkapan ‘asas praduga tak bersalah’. Kalau masih bingung juga, ada baiknya Anda mampir ke kedai es dawet.

Beda kasusnya dengan sang supir bis. Sebagai seorang manusia yang sering dianggap ‘biasa’ dan ‘kurang krusial’ dalam piramida manusia terhormat, sang supir mampu mengondisikan penumpangnya dalam keadaan kepasrahan, setelah semua usaha telah dilakukan dan mampu membuat mereka melihat keyakinan atau agama yang mereka anut sebagai suatu hal yang ‘mungkin’ dan sebenarnya tidak kompleks atau terlalu menuntut. Contohnya saja saya. Sebelum seminar proposal skripsi, saya belajar keras untuk mempersiapkan diri. Di dalam bis dengan metode mengendarai ‘walau ugal-ugalan, yang penting sampai’ itu, saya memasrahkan diri dan mulai merangkai kalimat-kalimat yang kurang lebihnya seperti ini: “Tuhan, aku datang siang ini kepada-Mu. Berikanlah aku keselamatan dalam perjalanan ini, agar aku dapat tiba di kampus tanpa kurang suatu apa dan mampu memberikan yang terbaik untuk seminar proposal skripsiku. Semoga dari hasil penelitian skripsi ini, aku mampu belajar lebih tentang pengungsi dan memahami situasi mereka untuk kemudian bekerja bagi mereka suatu waktu nanti.”

Mendadak, di dalam bis itu, dimana kita dihadapkan pada kemungkinan kecelakaan atau rasa takut berlebihan ketika sang supir terlihat kurang waspada, kita mulai mengingat lagi harapan-harapan  di dalam otak kita dan meyampaikan betapa pentingnya harapan itu kepada Dzat apapun yang kita percaya mengendalikan hidup kita. Tetapi, di saat yang bersamaan, kita juga mulai merancang rencana-rencana penting dan mengapa kita ingin melakukannya serta berharap kita masih diberi kesempatan untuk melakukannya. Cerita di atas bis lelucon Gus Dur inilah yang berperan sebagai cerminan sederhana dari apa yang saya sebut sebagai “agama yang memungkinkan”. Mungkin bagi kita untuk memahaminya, mungkin bagi kita untuk melaksanakannya, mungkin bagi kita untuk meneladaninya, mungkin bagi kita untuk berproses bersamanya dan mungkin bagi kita untuk berbagi pengalaman tentangnya tanpa harus menggurui.

Saya jadi teringat tentang seorang pemuda muslim bernama Kouresh Poursalehi, seorang  warga negara Amerika Serikat keturunan Iran yang begitu terpengaruh dengan konsep perlawanan terhadap kemapanan di dalam kultur punk, yang bersama temannya kemudian menggabungkan musik punk dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang bercerita tentang kesetaraan dan keadilan. Orang-orang di sekelilingnya banyak yang mulai ‘kebakaran jenggot’ dan mengecam hal ini. Tetapi, apa kata Kouresh? “Saya hanya ingin membuat Islam mungkin bagi saya dan teman-teman saya”.
Sofia Ariani
Yogyakarta, Jum’at, 14 Januari 2011


Saturday, June 26, 2010

Arti Bahagia?

Kesenangan denganmu seperti menikmati sebotol minuman soda
Aku begitu menggemarinya
Aku bisa saja membelimu berlusin-lusin
Tapi aku tidak mau
Kesegaranmu adalah satu botol ini
Rasa menusuk soda seakan-akan memperingatkanku untuk menyentuh hatimu perlahan-lahan, agar tak tersedak

Kesenangan denganmu seperti menuliskan ide-ide baru untuk sebuah naskah
Membawamu menjadi tokoh utama
Kamu bisa jadi malaikat, manusia, peri, apapun kecuali iblis
Senang mendengarkanmu membacakan dialog-dialogku
Membuat wajahmu bermimik seperti yang kuinginkan

Kesenangan denganmu seperti menikmati hari libur yang menegangkan
Menantang adrenalin
Membawa perasaan lebih berani

Kesenangan denganmu seperti membaca buku petualangan fiksi
Tertawa, tegang, terharu, takut, senang
Banyak emosi, semua jadi satu
Ada saja jalan untuk menyelesaikan kerumitan dan teka-teki

Kesenangan denganmu seperti  menikmati makanan di kala lapar membusung
Bahagia dengan berbagai macam paduan rasa
Mengunyah tak terkendali
Bersyukur karena tubuhku masih dapat mencerna semuanya dengan baik
Mengambil sarinya
Membiarkannya mengalir dalam darah

Kesenangan denganmu seperti berlari keluar dari penjara
Setelah 15, 20, 25 tahun atau mungkin lebih lama lagi
Bahagia dengan pemandangan yang lama tapi terasa baru
Dan memeluk lagi orang-orang yang aku sayangi

Kesenangan denganmu seperti menikmati tidur malam
Setelah semua pekerjaan yang menumpuk terselesaikan
Tugas jiwa dan tubuhku
Tugas menyelamatkan diriku sendiri dari kehampaan dan rasa bersalah
Karena tidak memenuhi hari dengan pengorbanan yang selayaknya

Kesenangan denganmu seperti perasaan lega ketika mampu bernapas lagi
Bernapas lagi setelah sesaknya napas karena polusi udara
Seperti menikmati udara yang paling bersih
Oksigen murni, yaitu dirimu
Karena kamu adalah udaraku

Kesenangan denganmu seperti mendapatkan angin segar
Ketika udara panas menyakiti kulit, membakar lapisan di bawahnya, di bawahnya, di bawahnya
Ketika keringat seperti tidak segan-segan untuk terus keluar, mengorbankan dirinya diuapkan matahari dan menghilang
Angin bertiup sekaligus membawa penyesalan si keringat karena bernyali menantang matahari

Kesenangan denganmu seperti menjalani kegemaran manakala kita ingin
Mngerjakan apa yang kita suka
Berteriak kegirangan ketika berhasil menciptakan sesuatu yang baru
Dan lebih bahagia ketika tahu bahwa kita menolong orang lain

Kesenangan denganmu seperti perasaan lega saat mengetahui sahabat baik yang kita cintai tidak menghilang begitu saja
Dia ditemukan kembali
Selamat dari ketersesatannya
Dia kembali dan masih mengingat kita dengan jelas
Dan berkata kita adalah orang yang terus ia ingat ketika berusaha mencari jalan keluar

Kesenangan denganmu seperti ketika kamu tahu kamu bersalah
Kesalahan besar, bahkan kamu pun tak membayangkan hal itu terjadi padamu
Tapi dia memaafkanmu tanpa syarat
Dia bilang hidupnya lebih indah kalau ia mendapat seorang teman lagi
Dan orang itu adalah kamu

Kesenangan denganmu seperti mendapatkan dukungan untuk hal-hal yang menurutmu akan hebat jika engkau yang melakukan
Mendapat banyak semangat
Banyak percikan api, hingga api unggunmu sendiri
Dan api abadimu sendiri

Kesenangan denganmu seperti menerima hasil tes kesehatan yang menyatakan kamu baik-baik saja
Tak ada yang salah pada dirimu, hanya flu biasa
Cuma satu suntikan
Cuma obat pahit
Tapi kamu tak apa-apa

Kesenangan denganmu seperti ketika menerima telepon dari orang tuamu
Ketika kamu jauh dari tempat kelahiranmu
Ketika kamu jauh dari siapapun yang kamu tahu tumbuh bersamamu
Ketika tugas menumpuk dan kamu tidak mengerti mana yang harus kamu mulai lakukan
Orang tuamu mengatakan, lakukan yang kamu bisa dan mereka meminta maaf kalau-kalau keberadaanmu yang jauh adalah karena ego mereka
Dan kamu merasa sangat bahagia, kamu menyangkal tapi kamu mengiyakan, tapi….kamu memaafkan
Kamu pun kembali hidup dan tahu apa yang akan kamu lakukan terlebih dahulu

Kesenangan denganmu seperti saat kamu tahu pengorbananmu tak sia-sia
Nilai-nilaimu berubah dari seisi bumi menjadi seisi galaksi
Kamu tak percaya tapi memang itu yang ada di depanmu
Dan kamu tahu kamu akan terus melanjutkan

Kesenangan denganmu seperti ketika kamu tak punya ide lagi
Tak ada ilham
Kamu tiba-tiba mendapatkan sesuatu
Dan itu merubah banyak hal menjadi baik untukmu

Kesenangan denganmu seperti mengetahui bahwa kamu berhasil menjadi orang yang tidak egois
Kamu berani untuk memutuskan bahwa kamu akan mengorbankan sesuatu yang kamu cintai
Kamu lebih bahagia karena itu ternyata sangat membantu orang lain

Kesenangan denganmu seperti mendapatkan hal yang begitu kamu inginkan sejak lama
Mengetahui bahwa apa yang kamu dapatkan adalah hasil penantian, pengorbanan dan dedikasi sebanyak yang kamu bisa berikan sampai waktunya tiba


Kesenangan denganmu begitu banyak
Seperti banyaknya hal-hal yang menyenangkan dan selalu tersedia dalam hidup
Arti bahagia denganmu sederhana
Tetapi tak perlu dipertanyakan lagi harganya
Karena semua hal ini dan yang lain adalah satu-satunya alasan yang paling masuk akal kenapa aku tidak mengeluh, merengek atau putus asa
Inilah harapan hidup
Orang-orang yang selalu bersamaku, termasuk kamu……………………

Elegy - The Land of The Sun

On my way to that righteous land of sun, I saw a grey cloud
It reminds me of an obnoxious, yet regretful person called me
Is it something that I should take a look at? Or I could abandon it as if it is only an immature statute of me?
But I looked anyway, and I wept
Because I know, somewhere, deep  into the already-decapitated pride of mine, I saw me
Asking for help to the merrier me, to the lovelier me, to the braver me
But, I sometimes don’t believe in it, hence I forget it


Wednesday, May 05, 2010

Mengenai Sudut Pandang oleh Sofia Ariani





Sudut pandang adalah sebuah frase yang mudah dilafalkan
Kupikir semua orang memilikinya
Ia adalah sesuatu yang membuat kita menilai orang lain
Menciptakan stigma baru atau menyikapi yang telah lewat
Dan, sayangnya, juga melahirkan prasangka baru


Sudut pandang memungkinkan kita mengambil keputusan tentang berhubungan dengan orang lain
Membawa kita ke jenjang pergaulan yang lebih menantang
Membuat kita berpikir banyak tentang kepantasan orang lain untuk masuk ke dalam kehidupan kita


Sudut pandang membuat kita terkadang mengatakan tidak untuk sesuatu yang ya dan sebaliknya
Ia membuat kita lebih berhati-hati sekaligus kehilangan kendali
Sesuatu di dalamnya membuat kita seringkali tidak menerima segala sesuatu di luar nalar dan sebaliknya
Hal yang misterius di dalamnya membuat kita mengiyakan perlakuan orang lain yang aneh kepada kita


Sudut pandang membuat kita memaafkan seseorang seribu kali lebih banyak daripada orang lain kebanyakan
Ada sesuatu di dalamnya yang membuat kita ingin mengenali seseorang lebih dalam
Ia mengatakan kepada kita untuk mencari tahu lebih banyak ketimbang memutuskan sesuatu tanpa dasar
Ia juga yang sangat sering menjadi alasan kita untuk mempercayai seseorang yang tidak dilakukan orang lain kebanyakan


Sudut pandang membuat kita menolak solusi yang ditawarkan semua orang dan memilih untuk mengambil resiko yang jauh lebih besar
Ia membuat kita terkadang melakukan kesalahan karena pilihan kita
Ia juga yang membuat kita memilih untuk tidak menyesali kesalahan tersebut dan membentuk kesadaran untuk memaafkan diri sendiri


Sudut pandang menawarkan dunia baru ketika kita sedikit mengubah bilangan derajatnya
Membuat kita terkejut tentang banyaknya kelipatan kemungkinan
Menantang kebijaksanaan kita untuk mengikuti yang terpintas atau yang tercerdas
Ada sesuatu di dalamnya yang menginginkan kita untuk melakukan yang terbaik tidak hanya untuk diri sendiri


Sudut pandang membawa kita ke dalam lingkungan baru yang tidak terduga-duga
Tapi juga mengurung kita di dalam ruangan hampa udara yang waktunya terhenti
Ia membuat kita menantang bahaya untuk seseorang yang tidak kita kenal
Rela mengorbankan sesuatu yang sangat kita cintai untuk seseorang yang berbicara buruk di belakang kita


Sudut pandang mengajak kita untuk berani meminta
Dan menguatkan niat kita untuk selalu memberi
Menjadi seseorang yang kuat secara proporsional dan tidak membatasi kemungkinan-kemungkinan yang selalu terjadi
Ada hal yang menarik di dalamnya sehingga kita tak seharipun hidup tanpa menggunakannya


Sudut pandang menciptakan pribadi yang berbeda di dalam hati dan jiwa setiap orang
Membuat kita menjadi lebih kuat di waktu-waktu yang diharapkan
Atau terkadang melemahkan semangat kita di saat-saat yang tidak diinginkan


Sudut pandang sering juga menghantarkan kekosongan
Tapi tak jarang memenuhi kita seperti yang selalu kita inginkan
Ada hal penting di dalamnya sehingga kita seringkali melindunginya sebagai aset pribadi


Sudut pandang membuat kita merendahkan hati untuk mengakui keunggulan orang lain
Memahami apa yang membuat kita tidak bisa melakukan sesuatu yang dengan mudah dilakukan orang lain
Tapi juga membuat kita mengagungkan diri sendiri dan memagari kemungkinan penjelajahan kita dengan harga diri yang tidak pada tempatnya


Sudut pandang bersiaga melindungi kita dari godaan menjadi orang lain yang bukan diri kita
Atau juga malah menyarankan kita untuk dengan sadar melakukannya
Membuat kita menghargai kemurnian
Atau memaklumi kepalsuan


Sudut pandang menyelamatkan kita dari ancaman menjadi pecundang di depan orang banyak
Atau mempertaruhkan harga diri untuk sesuatu yang kita yakini


Sudut pandang membuat kita melihat warna kulit adalah segalanya
Mengelompokkan ras yang bertebaran dalam dua kubu, yang unggul dan yang tidak unggul
Menekankan cinta tapi melupakan rasa hormat


Sudut pandang membuat kita memandang cacat tubuh sebagai suatu keistimewaan
Suatu modal penting, bukan untuk dikasihani tetapi untuk berbuat lebih dengan keterbatasan


Sudut pandang membuat kita menghargai alam
Menyimpan cinta untuk segala sesuatu yang bersumber darinya
Atau membinasakan beberapa dari mereka


Sudut pandang membawa kita ke dalam diri seseorang yang menghargai dirinya sendiri
Memberi nilai yang tidak dapat diukur terhadap visi dan misi kita


Sudut pandang membuka jalan lebar untuk meningkatkan kinerja diri
Ada keberhasilan-keberhasilan kecil yang sudah kita duga dan akan mengantarkan kita untuk menjadi pekerja yang lebih baik
Dan ketika kita mencapai beberapa hal-hal besar di antaranya, kita ingin membantu yang lainnya


Sudut pandang membuat kita menghargai materi sebagai suatu bagian dari sejarah hidup kita
Bukan sekedar pemenuh kebutuhan atau sesuatu yang bisa digantikan sesuatu yang lebih baik


Sudut pandang membuat kita percaya bahwa ada yang lebih baik jauh di atas diri kita
Tapi juga membuat kita begitu skeptis akan kenyataan yang terkadang telah begitu jelas


Sudut pandang membuat kita lebih menyadari hal-hal kecil yang mampu mengubah diri kita
Atau juga menutupi banyak hal dari mata kita, padahal mereka datang dan pergi tidak menentu


Sudut pandang mengantarkan kita kepada apa yang selalu kita inginkan
Tapi sering juga menjauhkan kita dari apa yang kita impikan


Sudut pandang membuat kita memandang simpati kepada si jahat
Dan menganggap si baik adalah bodoh karena terlalu naïf
Juga membuat kita mengiyakan bahwa tampak luar adalah jaminan yang ada di dalamnya


Sudut pandang membuat kita menggunakan kekerasan lebih daripada kelembutan
Tindakan gegabah ketimbang rasio


Sudut pandang membuat kita menyikapi sesuatu dengan keyakinan yang berbeda
Ia juga yang membuat kita memahami, sangat memahami, bahwa orang lain pun akan melakukannya